my INSPIRATION

KALA KEKASIH PUJAAN HATI ‘DIAMBIL’ ORANG


By. Anjrah As.

Sakit. Ya sakit itu perasaan umum yang kita rasakan saat pria atau wanita yang kita sukai dan kita idam-idamkan ‘diambil’ orang. Lebih pedih lagi jika kita telah berusaha mempersiapkan segalanya, sampai seakan pernikahan sudah di depan mata, ternyata berakhir dengan kegagalan.Berlepas dari usaha yang dilakukan itu halal ataupun haram, intinya adalah salah satu dari pasangan kekasih atau dua-duanya telah mengusahakannya.

Tidak usah membicarakan yang jauh terlebih dahulu. Kita ambil pelajaran dari teman-teman kita yang berpacaran. Tidak jarang teman-teman yang berpacaran itu melihat satu sama lain bahwa di masa depan meraka akan tetap hidup bersama (baca: menikah). Maka banyak aktivitas keseharian yang dilakukan selama berpacaran sudah seperti ketika mereka sudah benar-benar menikah.

Awalnya memang baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu timbul masalah lalu putus. Ya tabiat pacaran kan memang demikian, relatif mudah putus, kadang juga relatif mudah sambung. Tidak usah heran karena memang saat orang berpacaran tidak ada filosofi fundamental yang bisa dijadikan pondasi kelanggengan hubungan ‘asmara’ tersebut.

Kalau putus yang benar-benar putus sih sebenarnya cenderung ringan. Adakalanya ketika sudah putus, ternyata masih ada cinta yang menggelora. Masih ada hasrat untuk bisa melanjutkan hubungan asmara yang pernah terjalin bersama sang ke kasih. Tanpa di sangka-sangka, di tengah periode putus itu datanglah pria/wanita kepada mantan kekasih kita. Tidak lain tidak bukan ternyata pria/ wanita (bisa pacarnya yang dulu, orang baru, malah teman dekat kita) kemudian melamarnya dan menikahinya. Duh… hancur… hancur hati dibuatnya.

But it’s oke, Life must going on. Sedih itu wajar, tetapi bersedih berlebihan itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Sudah lah ikhlaskan saja. Makna ikhlas disini bukan lantas kita berpikir, “Ah… pria/wanita yang lain juga masih banyak”. Namun kita kembalikan pada iman kepada Qadha dan Qadar. Kita juga perbaiki iman kita kepada Allah Yang Mahapengatur lagi Mahamengetahui.

Allah yang mengetahui yang pria/wanita yang paling baik menjadi teman hidup kita. Boleh jadi kita menikah dengan wanita yang kita pilih semata-mata dengan pilihan kita sendiri, ternyata di masa depan dia justru menjadi muara penderitaan kita di dunia dan akhirat. Ingatlah Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Ikhlaskan… ikhlaskan. Pasrahkan kepada Allah semuanya. Biarkan orang lain ‘mengambil’ kekasih hati kita. Toh kalau jodoh dia tidak akan kemana. Jodoh kita juga tidak akan tertukar apa lagi meleset dari apa yang telah ditulis Allah subhanahu wata’ala. Ambilah ibroh dari beberapa kisah cinta berikut:

  1. Kisahcinta abadi nabi Yusuf alaihi salam dengan Zulaikhah.

Saya yakin sudah banyak yang mengetahui kisah cinta yang agung ini. Sebagaimana yang kita tahu dari yang dikisahkan dalam Al Qur’an bahwa sosok Nabi alaihi salam adalah pemuda yang Allah berikan kepadanya ketampanan, kebaikan Akhlaq, dan banyak kesempurnaan lahiriah juga batiniah lainnya. Sampai pada kisah Zulaikah yang tergoda dengan Nabi Yusuf alaihi salam lalu memaksa Nabi Yusuf alaihi salam untuk melakukan perbuatan maksiat (berzina). Nabi Yusuf alaihi salam pun sebenarnya telah tergoda mengikuti ajakan Zulaikha. Namun dengan pertolongan Allah subhanahu wata’ala Nabi Yusuf alaihi salam bisa lulus dari cobaan tersebut.

Pada tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa pada akhirnya setelah Zulaikah bercerai dengan suaminya, kemudian Nabi Yusuf alaihi salam menikahinya. Zulaikha telah bercerai dengan suaminya. Akhirnya Zulaikah bisa memiliki kekasih pujaan hatinya dengan cara yang lebih baik dan berkah. Tidak seperti pada kisah awalnya dimana Zulaikah ingin secara paksa dan melalui jalan yang buruk (zina) untuk memiliki Nabi Yusuf alaihi salam. Allah berikan jalan yang lebih baik, yakni melalui pernikahan. Ya tidak perlu kita memaksakan diri atau orang lain, bila emang dia jodoh kita, pasti kembali kepada kita.

  1. Kisah Ummu Salamah Radhiyallahu’anha. Ummu salamah memiliki suami bernama Abu Salamah. Setelah sekianlama berumah tangga, pada suatu hari kekasih pujaan hatinya, Abu Salamah, meninggal dunia. Kita tentunya sudah paham bagaimana dinamika perasaan saat kita mendapatkan musibah seperti yang dialami Ummu Salamah radiyallahu’anha di atas.

Hanya saja Ummu Salamah tidak larut dalam kesedihan yang terlalu dalam, Ummu Salamah ingat bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah lalu membaca: ‘Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun’, dan mengucapkan, ‘Allahuma’jurnii fiimushiibatii wakhluflii khoiron minhaa (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah buatku dengan yang lebih baik daripada musibah ini)’, melainkan dia akan diberi ganti oleh Allah (HR. Ahmad). Ummu Salamah lalu membaca doa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah ajarkan. Luar biasa, Ummu Salamah kemudian berkata, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku membaca doa seperti yang diperintahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka Allah memberi ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Pada kisah ini, perhatikan sikap ikhlash Ummu Salamah radhiyallahu’anha dan keimanannya kepada segala tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam menghadapi musibah kehilangan kekasih hatinya. Luar biasa sekali, Allah subhanahu wata’ala bayar tunai serta dengan ganti yang lebih baik. Ya singkatnya, bila kita mendapat musibah ditinggal ke kasih hati kita, santai saja. Ikutilah ‘rumus’ yang telah di ajarkan Ummu Salamah radhiyallahu’anha di atas. Semoga diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala, mendapat pahala dariNya, sekaligus dapat ganti yang lebih baik.

  1. Kisah cinta kontemporer antara tokoh Khairul ‘Azzam dengan Anna Althofunnisa pada novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya Kang Abik. Ya kisah ini kisah tambahan untuk menambah keimanan kita tentang kuatnya qadarullah (takdir Allah subhanahu wata’ala)mengatur perjodohan hamba-hambaNya.

Pada awal novel kita belum tahu bahwa Khoirul Azzam kelak ternyata jodohnya adalah Anna Althofunnisa. Bahkan yang kita tahu Anna menikah dengan tokoh Furqon. Kita juga tidak pernah tahu pada setelah Anna menikah dengan Furqon, ternyata Furqon belum pernah bisa sekalipun ‘menyentuh’ Anna. Ada berbagai qadarullah yang mengatur semuanya. Sampai pada akhirnya Anna bercerai dengan Furqon. Setelah bercerai dengan Furqon takdir Allah mempertemukan dengan Khoirul Azzam, sosok pemuda yang menolong Anna saat Anna dahulu kehilangan kitab-kitab kuliahnya, lalu menikah dengannya.

Ya sekali lagi, kalau memang bukan jatahnya, mau pusing dipikir bagaimana kita membuat skenarionya, kita juga tidak akan bisa merubah tinta takdir yang telah tertulis di Lauhil Mahfudz. Allah subhanahu wata’ala telah mengatur semuanya.

Akhirya, kala kekasih pujaan hati diambil orang ataupun akan diambil orang, ya biasa-biasa saja dan tenang. Kita berusahalah lagi. Kerjakan hal-hal yang produktif dengan sungguh-sungguh agar segera menemukan ‘jodoh asli’ kita. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ”Bersungguh-sungguh dalam menuntut apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kegagalan, janganlah kamu berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu’, tetapi katakanlah, ‘Qaddarallahu wamaa sya- a fa’ala’ (Ini telah ditakdirkan Allah dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki), karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan syetan” (HR.Muslim).

Ingat juga untuk mengistikharohkannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita musyawarahkan kepadaNya Yang Mahatahu apa-apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita munajat meminta petunjuk kepadanya (pada semua urusan, tidak cuma masalah jodoh saja) melalui shalat istikharoh agar apa-apa yang terbaik dimudahkan kita untuk mendapatkannya serta memberi berkah. Sedangkan jika itu adalah keburukan maka Allah hindarkan dan menuntun kita kepada yang lebih baik.

Pas sudah dapat terus kita dapati kekurangan-kekurangan pada jodoh kita, bersabarlah. Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ia memiliki kekurangan, pasti dia juga memiliki kebaikan-kebaikan. Ingatlah Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS. An Nisaa: 19). Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber bacaan:

Abdurrahman, Syaikh bin Hasan Alu Syaikh. 2002. Fathul Majid Edisi Indonesia. Jakarta: Pustaka Azzam

Abul Fida, Imamuddin. 2004. Tafsir Singkat Ibnu Katsir jilid 1. Surabaya: PT. Bina Ilmu

Al Qarni, ‘Aidh bin Abdullah. 2004. La Tahzan. Bandung: Irsyad Baitus Salam

Kala Buah hati tak kunjung datang


By. Anjrah Ari S.

Sesuatu yang wajar manakala pasangan suami istri (pasutri) mengharapkan hadirnya buah hati (anak) dalam pernikahannya. Mereka menanti hadirnya anak yang bisa menambah lengkapnya kebahagiaan dalam hidup serta menjadi ‘investasi’ di dunia juga akhirat.

Anak merupakan rizki dari Allah SWT. Sebagaimana tabiat rizki pada umumnya, ada sebagian pasutri yang Allah mudahkan memperolehnya dan ada sebagian lain yang butuh perjuangan keras untuk mendapatkannya. Ada yang menanti-nanti lama sekali, belum juga muncul tanda-tanda hadirnya sang buah hati.Di sisi lain ada yang Allah mudahkan, tetapi justru kehadirannya tidak diharapkan.

Teladan yang baik adalah nabi Ibrohim ‘alaihi shalatu wa salam saat menanti harinya sang buah hati. Nabi Ibrohim berdoa mengharapkan untuk mempunyai buah hati, ”Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaaffat: 100). Allah SWT pun mengabulkan doanya 80 tahun kemudian (Nabi Ismail ‘alaihi shalatu wasalam).

Begitu pula Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam, Allah mengisahkan dalam firmanNya, “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS. Al Anbiyaa’: 89). Nabi Zakaria berdoa kepada Allah agar mengkaruniakan kepadanya anak. Anak yang akan mewarisinya melanjutkan usahanya dan tugasnya memimpin umat.

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam, Allah SWT berfirman, “Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas . Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al Anbiyaa’: 89).

Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam pun bahagia bercampur heran. Bagaimana tidak, dirinya adalah suami yang telah lanjut usia. Istrinya juga seorang wanita yang mandul dan usianya sudah lanjut pula. Istri Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam sepanjang hidupnya belum pernah mengandung apalagi melahirkan Anak. Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua” (QS. Maryam: 8) .

Allah SWT menjawab, “Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali” (QS. Maryam: 9).Tak ada yang sulit bagi Allah SWT untuk membuat seorang yang mandul bisa mengandung dan melahirkan Anak. Tak ada sesuatu yang mustahil pula bagi Allah Yang Mahabesar dan Yang Mahakuasa. Bahkan pada seseorang wanita tidak memiliki suami dan belum pernah disentuh laki-laki, Allah bisa jadikan dirinya mengandung dan melahirkan anak (Maryam, Ibu Nabi Isa ‘alaihi shalatu wasalam).

Bagaimanapun, kita harus sadari bahwa baik yang cepat atau yang kurang cepat memperoleh anak secara hakiki adalah ujian dari Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Ath Taghaabun: 15). Tidak sedikit yang Allah SWT beri anak, tetapi justru semakin jauh dirinya dari Allah swt. Hadirnya anak menjadi bencana bagi tingkat keshalihan dirinya. Kadang-kadang anak malah menjadi malapetaka bagi kedua orangtuanya (durhaka, akhlaqnya buruk, menjadi penderitaan dunia-akhirat), sampai-sampai orangtuanya berkata, “Kiranya aku tidak kau karuniani anak saja ya Rabb”.

Beruntung bagi orangtua yang dikaruniai anak yang kemudian mereka asuh dengan baik. Mereka mensyukuri dengan baik, yakni dengan mengenalkan sang anak dengan Allah SWT, Rasul SAW, dan Al qur’an sehingga tercermin dalam akhlaq kesehariannya. Sang anak menjadi qurrotu a’yun (penyejuk mata) baginya. Namun, hal inipun juga termasuk ujian dari Allah swt. Tidak sedikit orangtua yang mendidik anaknya dengan segala kebaikan justru dirinya lalai dari kebaikan yang dia ajarkan.

Bagi orangtua yang telah diberi anak, ingatlah untuk berdoa sebagai mana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihi shalatu wasalam, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 40-41). Atau doa-doa lain yang dianjurkan dalam Al qur’an dan As Sunnah yang Shahih.

Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat buat kita semua. Teruslah menjaga ketaqwaan, berpikir optimis, beriktiar semaksimalnya, dan bertawakallah. Mari kita tutup dengan doa, “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74). Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka:

Hammam, Hasan bin Ahmad Hasan. 2007. Perilaku Nabi Terhadap Anak-Anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam

Katsir, Ibnu. 2005. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4,5,7. Surabaya: PT. Bina Ilmu

TULILAH SAAT KITA MEMANG PERLU UNTUK TULI


By. Anjrah

Heehm… hari ini (4 Oktober 2009, pukul: 12.49 WIB) aku membaca buku diaryku. Kayaknya buku diary waktu aku awal-awal kuliah di Fakultas PSikologi UNiversitas DIPonegoro. Ada beberapa yang membuatku tersenyum sendiri membaca apa yang aku rasakan pada beberapa segmen hidup di waktu hidup tetapi ada juga yang memberiku tambahan energi dan semangat hidup.

Aku nulis waktu itu,”Ketika kita melakukan hal yang berbeda dengan orang lainuntuk mencapai impian kita, pasti orang banyak akan membicarakan kita. Bahkan ada yang terang-terangan mempengaruhi kita. Tetapi kalau kita MENDENGARKAN MEREKA sehingga MENGURUNGKAN tindakan kita untuk mencapai sukses, KITA AKAN BERAKHIR SEPERTI MEREKA. Seperti orang kebanyakkan, yaitu orang yang biasa-biasa saja”.

“Aha”, kataku dalam hati. Ya, aku memang sedang membutuhkan suntikan-suntikan motivasi. Alhamdulillah aku dapat dari buku diaryku sendiri. Ya, terkadang memang kita perlu tuli atau mengabaikan cas-cis-cus perkataan orang lain terhadap aktivitas kita mencapai sukses. Jangan sampai cas-cis-cus melemahkan diri kita bahkan sampai mengurungkan niat kita menuju sukses.

Prinsip tuli terhadap hal negatif ini juga diajarkan secara popular melalui cerita perlombaan katak. Pada suatu hari ada perlombaan memanjat menara. Perlombaan menghadirkan katak-katak yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Berbagai model katak turut serta untuk mencapai puncak menara. Setelah peluit tanda mulai ditiup, katak-katak terus bergegas melompat menaiki tangga demi tangga menara. Semakin lama semakin tinggi para penonton di bawah berteriak-teriak, “woi para katak, kamu sudah naik tinggi sekali”. Ada juga yang mengatakan,“awas jatuh” dan sebagainya. Sebagian kontestan mendengarkan teriakan-teriakan penonton, dia menyadari bahwa dirinya telah naik menara terlalu tinggi sehingga dirinya hilang konsentrasi lalu terjatuh. Tidak satu dua katak yang terjatuh, semua kontestan akhirnya terjatuh sampai tertinggal satu katak. Satu-satunya katak yang tersisa ini terus melompat dan akhirnya sampai puncak menara. Para penonton terpukau dengan katak tersebut. Para penonton dan kontestan lain merasa heran bagaimana bisa katak tersebut bisa mencapai kesuksesan yang demikian gemilang (bisa mencapai puncak menara). Setelah turun, katak ini diwawancarai, tetapi diam saja. Ternyata setelah diteliti, katak ini tuli alias tidak bisa mendengar.

Oke, ya memang saya tidak mengatakan dari cerita katak yang telah saya utarakan bahwa agar bisa sukses anda secara fisiologis harus menjadi orang tuli. Tetapi yangs aya maksudkan, ketika kita ingin sukses fokuslah ke target sukses yang ingin anda capai. Tak perlu kita hiraukan suara-suara sumbang yang bermaksud melemahkan bahkan menghalangi kitamencapai apa yang kita ingin capai. Bersikap tulilah terhadap suara-suara yang semacam itu. Peracaya diri, komitmen, dan teruslah bekerja keras untuk sukses. Ya seperti katak tuli tadi. Dia hanya ingin mencapai puncak menara sementara banyak kontestan lain yang berjatuhan sebab terpegaruh kata-kata negatif dari penonton maupun sesame kontestan lainnya.

Oke, semoga bisa menginspirasi. Sebagai penutup, di diary ini ada kutipan kata-kata mantan juara tinju dunia, “TOBE A CHAMPION, YOU HAVE TO BELIEVE IN YOUR SELF, WHEN NO BODY ELSE WILL”. Plus minusnya, mohon maaf…

Ambillah peran dalam dakwah islam,sebab tidak ada kata kecil dalam dakwah


Aku pernah mendengarkan ceramah pengajian yang dibawakan oleh Ust. Armen Halim Naro mengenai sebuah hadist yang menceritakan tentang seorang wanita yang dia mengkhususkan dalam kesehariannya untuk membersihkan masjid. Selengkapnya alhamdulillah saya telah saya dapatkan, berikut kutipannya:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah seorang wanita yang biasa membersihkan masjid. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan wanita tersebut, lalu mereka menjawab: Ia telah meninggal. Maka beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Mereka seakan-akan meremehkan urusannya. Beliau lalu bersabda: “Tunjukkan aku makamnya.” Lalu mereka menunjukkannya, kemudian beliau menyolatkannya. (HR Muttafaq Alaihi).

Muslim menambahkan: Kemudian beliau bersabda: “Sungguh kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan atas penghuninya dan sungguh Allah akan meneranginya untuk mereka dengan sholatku atas mereka”.

Dalam pandangan manusia secara umum, tentunya ‘profesi’ membersihkan masjid bukanlah termasuk ‘profesi’ yang bergengsi. Tidak sedikit bahkan diantaranya memandangnya remeh. Tetapi tidak demikian halnya dengan orang yang mengenal Allah subhanahu wata’ala dan negeri akhirat.

Sebagaimana pada hadist di atas dikatakan seakan-akan para sahabat meremehkan perihal wanita yang suka membersihkan masjid, tetapi tidak dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau menanyakannya dan bahkan ketika beliau tahu bahwa wanita itu meninggal,beliau ikut menshalatkannya. Adakah manusia yang lebih beruntung dari manusia yang ketika meninggal dishalati oleh Rasulullah?

Dari hadist di atas kita juga paham bahwa dalam tidak ada amal yang dipandang kecil ataupun remeh dalam islam. Setiap orang dengan kemampuannya dapat memberikan perannya kepada islam. Sampai-sampai wanita yang digambarkan dalam hadist di atas, wanita ini memberikan perannya sebagai orang yang membersihkan masjid Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan lihatlah penghargaan beliau terhadapnya.

Ditambahkan oleh Ustadz Armen, beliau juga menyampaikan sebuah kisah tentang Abu Mihjan Ats Tsaqofi rahimahullah ta’ala. Dengan topik, maksiat tidak menghalangi seseorang untuk berbuat baik dan memberikan perannya bagi islam. Sebab dengan dirinya sadar bahwa dirinya seorang ahli maksiat, seharusnya maksiatnya menjadi pemicu dirinya untuk lebih banyak beramal.

Dikisahkan bahwa Abu Mihjan Ats Tsaqofi rahimahullah ta’ala adalah seorang yang banyak meminum khamer. Ia seseorang yang selalu dihukum oleh amir oleh gubernur karena banyaknya dia minum khamer. Ia tidak pernah berhenti menerima hukuman dari minum khamer. Akan tetapi dia memiliki kebaikan yang tidak dimiliki kebanyakan kaum muslimin. Ia tidak rela islam dilecehkan dan dikalahkan.

Pada sebuah peperangan yang terjadi di Qadhisiyah. Ketika itu ‘Amr bin ‘Ash memenjara beliau. Ketika itu beliau (Abu Mihjan) mendengarpasukan romawi memukul pasukan muslimin. Ya mereka terpukul mundur, kemudian terdengarlah syairnya (syair dair Abu Mihjan-ed) yang masyhur bahwa permintaanya kepada istri ‘Amr bin ‘Ash untuk dirinya dilepaskan. Itu sebuah keutamaan yang dimiliki oleh seorang muslim yang maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala tetapi dia tidak berputus asa dia memiliki kelebihan yang dipunyai dirinya.

Untuk itulah semoga uraian sedikit tentang hadist di atas bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk memperbanyak amal kebaikan dan peran kita untuk islam. Sebagai penutup saya sampaikan kutipan perkataan Imam Malik yang disampaikan oleh ustad Armen, bahwabeliau (Imam Malik) mengatakan “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala membagi amal sebagaimana Allah membagi rizki. Innallaha qosamma at tho’at kama qosamamla arzaq, sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala memberikan ketaatan kepada seseorang sebagaimana Allah memberikan rizqi. Allah lebihkan, Allah kurangkan begitu seterusnya. Ketaatan begitu. Dan berapa banyak Allah bukakan, Kata Imam Malik, berapa banyak Allah bukakan pada puasa, tidak dibukakan pada shalat. Dan berapa banyak orang Allah bukakan untuk dimudahkan di dalam shalat tidak Allah bukakan di dalam pintu sedekah”. Maka hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin pada ibadah-ibadah dan potensi-potensi amal yang telah Allah mudahkan untuk diri kita masing-masing. Ingatlah pula bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak mempertanyakan hasil, Allah akan mempertanyakan perjuangan seorang hamba di dalam islam. Walalahu a’lam bishawab.

Pembahasan lengkap mengenai pembahasan di atas, bisa di download pada :http://search.4shared.com/network/search.jsp?searchName=kisah+juraij&searchExtention=&submitButton=Search&searchmode=2. Pemateri Ustadz Armen Halim Naro, judul ceramahnya KIsah Juraij 1-3. Semoga bermanfaat.

Karyawan Teroris???


Aku merasa aneh dengan pola pikir sebagian orang yang bersikap diskriminatif dengan style-style orang yang belajar lebih religius dalam mengamalkan ajaran agama islam. Adasebagian yang beranggapan style-style religius seperti orang yang memiliki jenggot, menggunakan celana panjang cungklang, tidak berkumis, berkerudung besar, bercadar, menggunakan gamis, dan tidak mau bersentuh dengan non mahram identik sebagai style teroris.

Padahal kalau kita mu cermati secara lebih jeli, akuilah bahwa style gembong teroris nomor satu Indonesia, Pak Noordin M. Top, malah tidak berpenampilan seperti demikian. Penampilannya biasa-biasa saja. Pelaku-pelaku lain yang dituduh membantu terornya Noordin juga bertampang biasa-biasa saja, contohnya si Boim alias Ibrohim, seorang floweris hotel J. W Marriot yang dituduh menjadi bagian jaringan teroris oleh polisi.

Sekalipun aku juga tidak menutup mata bahwa ADA SEBAGIAN oknum yang dituduh sebagai bagian jaringan Noordin yang memiliki style-style religiusseperti saya telah uraikan di atas. Tetapi mbok yao kita belajar secara objektif memandang manusia. Logika kita pasti menerima bahwa manusia memiliki banyak keanekaragamaan sifat dan perilaku. Jangan sampai perilaku dan sifat sebagian individu yang memiliki style tertentu secara gebyah uyah digeneralisasikan terhadap orang lain.

Ya seperti permasalahan style religius di atas. Sampai-sampai ada orangtua menyarankan kepada anaknya ketika akan berangkat melamar pekerjaan untuk menghilangkan style religius yang tampak padanya. Saya pikir, “Emangnya kenapa harus dihilangkan? Bukankah seharusnya para pemilik pabrik dan manajer senior lebih memilih mereka yang religius?”.

Logika berpikir saya begini. Style-style religius diterapkan dalam diri seseorang bukan tanpa alasan. Justru mereka memiliki alasan yang sangat kuat sebagai landasan pilihan mereka berpenampilan seperti itu. Mereka paham benar bahwa penampilan seperti itu merupakan wujud upaya kerasnya menaati aturan-aturan (disebut: syariat islam) yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Mereka menjadikan syariat islam sebagai barometer dari segala sisi kehidupannya. Tidak sekedar pada permasalahan transendental antaraindividu dengan Penciptanya, tetapi juga norma kehidupan bermasyarakat dan tata cara menjaga kebersihan diri di WC. Para ulama menjelaskan bahwa bagi mereka yang menjalankan syariat akan mendapatkan pahala dan berkesempatan untuk masuk surga, sedangkan bagi yang melanggar syariat akan memperoleh dosa dan baginya tempat di neraka.

Cermatilah. Terhadap sebuah aturan yang notabene reward dan punishment-nya relatif tidak langsung dirasakan dan tidak terlihat saja tetap berusaha untuk taat serta patuh. Mereka tetap shalat lima waktu, berpuasa pada bulan ramadhan, menggunakan jilbab, jujur, amanah, menepati janji saat ada atau tidak ada atasan yang melihat. Mereka meyakini ada Allah subhanahu wata’ala Yang Mahamelihat setiap detail perbuatannya.

Saya yakin tentunya tugas para manager perusahaan nantinya jadi lebih ringan manakala para karyawannya menjadikan syariat islam menjadi barometer dirinya. Para manager sebatas perlu menjelaskan bahwa jobdesk dan standar operasional prosedur (SOP) merupakan suatu amanah bagi dirinya. Sehubungan dengan topik amanah saya jadi teringat dengan tokoh Bang Acip dalam Sinetron Para Pencari Tuhan jilid 3 yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia. Di kisahkan pada salah satu episodenya bahwa Bang Acip diperintahkan oleh atasannya (Bu Aya) untuk mengantarkan barang. Bang Acip diberi bekal uang oleh kantor untuk membayar jasa ojek yang digunakannya. Ketika barang telah diantar, ternyata uang bekal dari kantor masih tersisa. Kalau saja tukang ojek tidak membawa kabur uang kembaliannya, Bang Acip yang ditokohkan sebagai tuna netra dalam sinetron tersebut, niscaya mengembalikan sisanya ke kantor. Bang Acip hanya mampu beristighfar dan merasa sangat bersalah sebab maksud mengembalikan uang sisa menjadi terhalang. Uang sisa tersebut dibawa pergi oleh si tukang ojek yang mengantarnya.

Karyawan disadarkan bahwa kontrak kerja tidak lain adalah salah satu akad perjanjian, Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya perintahkan untuk menepati setiap janji yang telah disepakati. Karyawan menepati janji dengan bekerja sesuai dengan akad yang telah disepakati. Di sisi lain, pihak perusahaan juga harus menepati janji-janji yang telah ditulis di kontrak kerja dengan karyawan.

Banyak benefit lain dari memperkerjakan karyawan-karyawan yang shalih dan taat beragama. Mereka jadikan kerja sebagai bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala yang harus dijalankan sesuai dengan syariat-Nya. Mereka berusaha dengan keras menjauhi perilaku-perilaku secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan yang menjadikan Allah subhanahu wata’ala tidak ridho kepadanya. Sekalipun memang kita tetap tidak menutup mata, ada sebagian individu yang menjadikan style-style religius untuk tujuan negatif. Sikap terbaik untuk menanggapinya secara pertengahan. Sebab memang sudah dipahami bersama bahwa setiap manusia lahir dengan potensi baik dan buruk.

Demikian tulisan ini susun dengan harapan bisa menjadi masukan kepada berbagai pihak agar bisa mencermati permasalahan style-style religius dari para pencari kerjasecara objektif dan proporsional. Bukan hal yang tidak mungkin, formulasi nilai keagamaan yang telah terinternalisasi dan tampak dalam penampilan mereka dikembangkan ke arah budaya kerja yang produktif dan profesional. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih.

By. Anjrah Ari S, 24 September 2009 at my home, prembun city.

Rel Kreta ini Serasa Shirath bagiku


Stasiun Tawang, Semarang, 6 Juli 2009, kurang lebih pukul 20.20 WIB. Aku sedang berada di dalam Kereta Senja Utama yang seharusnya pukul 20.00 WIB tadi berangkat menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Ehm…tadi sayup-sayup terdengar bahwa lokomotif kereta sedang mengalami permasalahan teknis. It’s oke, yang penting sekarang aku dah dapat tempat duduk.

Aku amati dari jendela kereta berbagai aktivitas yang dilakukan orang-orang di Stasiun Tawang. Aku lihat ada bapak-bapak yang sedang terdiam dengan tangan kanannya disandarkan ke tembok. Ada seorang ibu yang sedang merokok bersama bapak-bapak di tempat tunggu. Ada yang sibuk berbelanja bekal perjalanan, ada yang sedang makan, dan tidak lupa lalu lalang pedagang yang menawarkan aneka jenis dagangan. “Pop Mie, Pop Mie…. Mizone…Mizone… Kacang Rebus..”, ramai sekali suasananya.

Kereta tidak juga berjalan, tiba-tiba aku jatuh dalam renungan. Pikirku menerawang jauh ke masa depan. Aku rasakan bahwa perjalananku tidak lagi ke Jakarta, tetapi perjalan akhiratku menuju akhirat. Aku rasakan gerbong kereta yang aku naiki ini nantinya akan berjalan menuju Allah Subhanahu wata’ala. Aku dan orang-orang yang di dalam kereta ‘kebetulan’ menjadi orang-orang yang terpilih untuk lebih dulu menghadap Allah subhanahu wata’ala untuk mempertanggungjawabkan segala perilaku yang telah saya perbuat. Kamilah orang-orang yang amalnya akan dihisab (akan dihitung) kemudian ditimbang oleh timbangan amal yang sangat adil dan tepat takarannya. Orang-orang yang masih di stasiun, mereka masih menunggu gerbong yang akan membawa mereka. Ya Allah, hamba takut… Allahumaghfirli.

Bersamaan dengan itu terbayang banyak perbuatan-perbuatan maksiat yang telah aku lakukan. Ya Allah, Allahumaghfirli. Begitu banyak perilaku durhaka kepadaMu, begitu banyak kesombongan, dan keangkuhanku dalam melanggar syariat’Mu. Ya Allah…

Rel kereta ini tidak lagi sekedar aku lihat sebagai baja sejajar yang digunakan kereta sebagai jalan. Aku rasakan inilah shirath…jembatan shirath yang nantinya akan dilewati setiap manusia di akhirat. Sesiapa yang berhasil melewatinya akan masuk surga, dan sesiapa yang gagal melewatinya nerakalah tempat berakhirnya. Ya Allah, hamba mohon pertolonganMu…

Yang jelas aku jadi ingat hari akhirat. Aku juga ingat bahwa mati bisa terjadi setiap saat tanpa kita dikasih tahu terlebih dahulu. Maut akan datang seketika pas pada waktunya. Ya Allah… hamba memohon ridho dan surgamu, serta berlindung kepadaMu dari neraka dan murkaMu. Allahuma ini as aluka ridhoka wa jannah, wa’udzubika min sakhotika wa nar… Jadikankanlah hamba termasuk hambamu yang kau mudahkan melewati shirath dan aman dari kait-kaitanya yang menakutkan.

Ya demikian perenunganku saat melihat situasi di Stasiun Tawang, Semarang. Sesaat sebelum jalan menuju Pasar Senen. Ya, ke Jakarta dalam edisi interview di PT Swakarsa Sinar Sentosa. Sekian.

Polsek Prembun, Riwayatmu Kini


(diaryku, 7 Mei 2009 at Prembun City, Kebumen Metropolitan)
Awal mei 2009 saya melakukan liburan pasca wisuda di kota kelahiran saya di Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. Kembali ke prembun menghadirkan banyak nostalgia pengalaman masa kecil bersama teman-teman. Salah satunya berlatih beladiri di Kantor Polsek Prembun (lama). Masih terbayang semangat membara melakukan jurus-jurus silat yang diajarkan oleh guru-guru padepokan sampai rasa panas sebab latihan diadakan di halaman polres yang langsung ‘menantang’ matahari. Ehm… singkat cerita ada banyak kenangan baik suka maupun duka di bangunan yang sekarang ini difungsikan sebagai Asrama Polisi Prembun.
Kantor Polsek Prembun yang lama ini menurut masyarakat dibangun oleh Belanda. Dilihat dari bentuk konstruksi bangunannya saja sudah nampak kekhas londonya (Belandanya) seperti desain pintu, desain jendela yang tinggi, kerangka atapnya, dan bentuk bangunannya demikian tinggi serta luas.
Dahulu sebelum kantor polisi belum dipindahkan ke lokasi yang baru, kantor ini ramai dengan berbagai kesibukan polisi yang bertugas. Berbeda dengan sekarang, suasananya terlihat sepi serta terkesan angker pada malam hari. Ehm, tetapi kadang-kadang di waktu sore hari halamannya dipakai sepak bola oleh para pemuda desa prembun.
By the way, aku sedikit kaget dengan kondisinya yang sekarang. Kantor polisi tersebut tampak berantakan. Di sana sini terdapat pasir, semen, kayu-kayu, dan matrial bekas tembok. Ehm, ternyata sedang direnovasi.
What? Direnovasi?
Ya. Ternyata bangunan khas konstruksi belanda tersebut sedang direnovasi. Atapnya aja sekarang sudah mulai berubah, tadinya beratapkan ganteng, sekarang sudah berubah menjadi seng berwarna biru. Yang jadi pemikiran saya, “Waduh… tu mbongkar-mbongkar pake tenaga ahli yang tahu bangunan bersejarah apa tidak ya? Kan eman-eman banget jika bangunan bersejara tersebut dirubah sana-sini tanpa mempertimbangkan aspek historisnya!!!”.
Saya kemudian teringat dengan permasalahan bangunan bersejarah di kota Semarang (pasar johar dan lawang sewu). Rencana renovasi dua tempat bersejarah tersebut pernah menjadi perbincangan yang cukup menegangkan. Ya sih,setahu saya keduanya sudah menjadi Benda Cagar Budaya harus berhati-hati ketika mau melakukan renovasi. Renovasi dilakukan harus mempertimbangkan berbagai norma yang ada pada Undang-Undang No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Terus Kantor Polsek Prembun yang lama bagaimana?
Nah itu yang jadi keresahan saya selaku warga Negara Prembun. Sekalipun, setahu saya, Kantor Polsek Prembun belum disahkan menurut undang-undang sebagai benda cagar budaya. Ya setidaknya kan tetap memiliki nilai sejarah terutama bagi kota Prembun. Semestinya tetap perlu dilestarikan keberadaannya. Pelestarian tersebut mencangkup konsep, ya dilestarikan dengan bentuk aslinya. Tanpa diadakan perubahan-perubahan.
Saat saya kemarin (7 Mei 2009, pukul: 10.26) main ke kantor polsek prembun lama, saya sudah melihat bahwa atapnya akan dirubah (lihat foto). Aku berkata dalam hati, “Waduh, yang benar aja Pak Polisi, mosok atapnya dirubah begitu… atap dan gentengnya juga bernilai sejarah lho pak!”. Belum lagi bangunan dalamnya, sudah berubah banyak. Sepertinya tembok asli dari kantor tersebut dikelupas dan dipasang tembok baru.

Aku terus mengecek bangunan disekeliling kantor utama polsek prembun yang lama tersebut. Aku masih sedikit bersyukur bahwa bangunan disebelah kiri gedung utama yang konon dulu digunakan sebagai tempat menahan penjahat masih utuh. Temboknya masih original dengan lumutnya sebagai riasan yang menegaskan kesan sebagai bangunan kuno. Aku terus berpikir juga, “Syukurlah masih ada yang original. Tetapi, sampai beberapa hari ke depan paling-paling juga ‘tidak perawan’ lagi”.
Ya itu lah sedikit nostalgia saya dengan Polsek Prembun yang lama. Diprembun masih ada satu bekas bangunan kuno yang berlokasi dekat dengan Polsek Prembun Lama ini. Ada bangunan kuno yang mbah buyut saya sebelum wafat, seingat saya, pernah bercerita bahwa bangunan tersebut dulu adalah pabrik tebu dan masyarakat prembun dulu disuruh kerja paksa di situ.
Tulisan ini saya harapkan bias menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan dan sesiapa yang peduli dengan bangunan bersejarah disekitarnya. Benda-benda bersejarah, sebagaimana amanat UU No. 5 tahun 1992, merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.
Demikian salah satu hasil jalan-jalan di Prembun. Saya harus segera kembali lagi ke Semarang.

Ideku about Tinjomoyo


25 April 2009

Tinjomoyo dahulu terkenal sebagai salah satu pilihan tempat wisata yang banyak disukai warga Semarang. Keadaan alamnya yang bagus, udaranyanya sejuk, serta koleksi satwa yang cukup banyak. Saya mempunyai teman yang pada waktu kecilnya sangat sering berkunjung ke kebun binatang Tinjomoyo tersebut. Teman saya ini sangat menyukainya. Namun, sekarang kebun binatang telah dipindahkan ke daerah Mangkang. Ya sudah, Tinjomoyo jadi sepi. Tersisa hanya beberapa kandang yang konstruksi bangunannya suduh mulai rusak serta rumput-rumput liar tumbuh disana-sini.

Kebetulan saya pernah dilibatkan dalam tim outbond yang mengambil setting belajar di Tinjomoyo. Kami memilih lokasi Tinjomoyo sebab di sana yang jelas low price, dekat dengan kampus, pemandangan alamnya bernuansa bagus, dan banyak space-space terbuka untuk melakukan berbagai game outbond. Sedikit bukti bahwa pemandangannya yang bagus sebab Tinjomoyo masih sering digunakan untuk areal pemotretan model-model. Saya pernah menyaksikan sendiri prosesi pemotretan yang sedang dilaksanakan di Tinjomoyo.

Bila cermati lebih teliti, di Tinjomoyo sebenarnya sudah ada juga sarana outbond. Saya lihat ada pos diatas pohon yang sepertinya untuk flying fox dan beberapa permainan yang disiapkan menggunakan tali. Saya kurang tahu siapa yang mengelola permainan-permainan tersebut. Sepertinya masih bisa dipakai, sekalipun kalau saya sendiri masih kurang yakin tentang kualitasnya.

Ehm, yang jelas Tinjomoyo ini aset yang sangat berharga bagi masyarakat semarang. Menurut hemat saya, lokasi yang dekat dengan kampus, mudah dijangkau, berbagai kelebihan dari sisi panorama alamnya membuat Tinjomoyo menjadi pilihan untuk berbagai kegiatan. Terutama bagi mahasiswa bisa melakukan outbond di situ. Apabila instansi yang bertanggung jawab terhadap Tinjomoyo mau sedikit kreatif, yakni dengan memperbaiki sarana yang ada dilokasi seperti gedung-gedung bekas kantor. Gedung bekas kantor tersebut dimodifikasi sebagai gedung pertemuan mini yang bisa digunakan untuk para mahasiswa melakukan reorganisasi dan rapat-rapat keorganisasian di dalamnya. Selain itu dukungan dari factor ke amanan juga penting. Terus lagi listrik yang support buat pasang LCD, apa computer, dan pengeras suara. Ya intinya, Tinjomoyo aset yang terlalu sayang jika cuma ditinggalkan dan menjadi kenangan. Matur nuwun.

Wisuda dan bersyukur


27 april 2009, At Grand Candi Hotel, Semarang

Bersyukur, ya, sebagai hamba yang tahu diri kita wajib bersyukur. Alhamdulillah ya Rabb, hamba telah melakukan wisuda sebagai sarjana psikologi. Semua bisa terjadi hanya karena limpahan petunjuk, karunia, dan nikmat dari Mu. Semoga Engkau menerima panjatan syukur dari hamba dan menambah nikmat yang Engkau berikan, sebagai mana Engkau berfirman, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Wisuda pertama kalinya dalam hidup ini tidak begitu istimewa. Bagi saya, wisuda disyukuri dengan tidak dilaksanakan dengan hura-hura. Sungguh bersyukur yang demikian merupakan cerminan dari hati-hati kita yang mungkin telah mulai keras membatu. Bagaimana bisa kita berhura-hura merayakan kelulusan sedangkan masih banyak saudara, adik, dan teman kita yang untuk kesulitan untuk bersekolah. Bagaimana kita bisa berhura-hura digedung hotel berbintang sementara keadaan sekolah-sekolah saudara kita sedang menunggu waktu kapan ambruknya. Bagaimana bisa berpesta pora dengan berbagai menu makanan sedangkan masih banyak saudara kita yang mencari sesuap nasi saja sehari belum tentu dapat, sedangkan disini nasi dan lauk banyak yang terbuang sebab tidak dihabiskan pada saat makan. Ya Allah dalam keramaian wisuda ini hamba justru takut kepadaMu. Takut ditanyakan pertanggung jawaban atas semua itu kepada hamba.

Ya Allah, hamba tidak suka dengan mekanisme syukur dengan cara yang mahal begini. Padahal uang yang dipakai untuk bayar wisuda bisa digunakan untuk modal usaha atau perkara lain yang lebih bermanfaat dari sekedar menyanyi dan menyayi lagi, menari, makan-makan, dan sepaket acara protokoler wisuda. Catatan untuk nyayi, aku piker juga tidak digarap serius. Saat ada space untuk nyanyi, sebenarnya akan lebih baik jika ditawakan kepada hadirin yang datang mungkin akan membagi suaranya. Bukan dimonopoli panitia. Selain itu juga perhatikan pemilihan lagunya, wong yang dateng usianya sudah sepuh atau umurannya Koes Plus, malah nyanyian dan atraksi-atraksinya anak muda banget. Secara manajemen EO masih perlu banyak perbaikan. Cobalah suatu kali wisuda, para peserta wisuda diberi presentasi tentang pentingnya berbagai kepada sesama, bangkitkan mereka terhadap rasa kepedulian terhadap pendidikan. Bagaimanapun, Saya tetap menghargai panitia yang telah dengan upaya keras menyiapkan acara wisuda ini dengan sebaik-baiknya. Terima kasih semua.

Pada saat dinyanyikan lagu Padamu Negeri, miris hati saya. Saya diingatkan untuk sadara bahwa saya adalah seorang warga Negara Indonesia. Saya harus tahu diri yakni menghargai jasa para mujahidin yang dulu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tiap tetes darah mereka yang menetes, tiap rasa derita yang mereka rasakan, dan berbagai pengorbanan lain yang mereka ikhlaskan kepada Allah swt saat berjuang melawan penjajah dahulu. Saya tahu, saya harus melanjutkan perjuangan mereka. Saya harus amanah dengan bangsa ini. Sementara saya teringat dengan para koruptor dan pengkhianat bangsa, ya Allah jauhkan diri hamba dari perbuatan-perbuatan yang semacam itu serja jauhkan jangan sampai hamba tersentuh dalam perilaku haram tersebut. Sekedar catatan, saya secara pribadi tidak suka dengan kata-kata yang ada pada lagu Padamu Negeri. Pada baitnya terdapat ungkapan yang cenderung ke arah perilaku syirik kepada Allah swt.

Pada saat pidato salah satu wisudawan. Ya Allah, saya benar-benar berterima kasih kepada bapak-ibu dosen yang telah membimbing saya belajar. Share knowledge, share experience, share inspiration dengan kami. Jazakumullahu bi ahsanal jaza. Sekalipun masih terasa dongkol juga dengan oknum dosen yang terkadang dalam persepsi saya, mereka belum professional dalam mengajar. Belum begitu menguasai bahan materi atau mungkin memang pelit untuk membagi ilmunya. Ingatlah bapak ibu dosen, ilmu itu juga nantinya ditanya oleh Allah. So, lebih banyak lagi yang dibagi, lebih banyak lagi yang disharekan, atau kalau memang belum tahu, ya ga usah malu untuk belajar bersama. Toh sekarang iklim belajar dikampus sudah beralih ke sharing experience bukan mung transfer knowledge yang seperti biasanya panjenengan- panjenengan lakukan di kampus.

Saat melihat sejumlah anak kecil yang ikut hadir, saya teringat Heni. Heni adalah nama adik saya yang bungsu. Kebetulan dikarenakan alasan-alasan teknis pada hari Wisuda Fakultas tidak bisa datang. Ya Allah, aku ingin sekali dia datang, agar terinspirasi dengan banyak wisudawan yang hadir. Aku ingin sekali Heni kelak menjadi salah satu wisudawan di Kampus Negeri. Heni, semoga mas bisa menginspirasi kebaikan untukmu. Begitu pula bagi adik ke duaku, Wuri. Ya Allah, jadikan meraka sadar dan jujur akan pentingnya pendidikan untuk sarana beribadah kepadaMu.

Hal yang paling miris, aku belum bisa membagi moment ini dengan orang yang sangat special di hati. Ya Allah, aku lihat teman-teman wisudawanku membawa kekasihnya masing-masing. Memang jika masih pacar yang dibawa ke acara wisuda sih bagiku belum begitu membanggakan. Aku hanya berfikir, “Ya Allah aku ingin membagi moment ini dengan kekasih yang telah Kau kirimkan dan Kau halalkan untukku”. Ehm… ya sudahlah lawong keadaan sekarang memang begini. Ya Allah, hamba lebih bersyukur lagi manakala besok hamba bisa studi S2/ S3, lulus studi S2/ S3, dan ketika wisuda ada istri dan anak-anak hamba. Insya Allah terwujud.

Ehm, apa lagi ya… udah ah. Intinya syukur sudah wisuda. Sudah jadi Anjrah Ari Susanto, S.Psi.. Saya juga ucapkan barokallah kepada para wisudawan periode 114 Universitas Diponegoro. terutama teman-teman dari angkatan 2004 Fakultas Psikologi. By the way, setelah wisuda semoga bisa seperti harapan salah satu dosen yang saya hormati, ”Syukurlah, semoga akan disusul dengan keberhasilan-keberhasilan berikutnya. Amien…”. Insya Allah. TETAP SEMANGAT, Go SUKSES!!!

PEKERJAAN UTAMA ADALAH da’wah


Dhen Anjrah

Ehm aku sedang teringat salah satu kolom dalam CV yang kadang disodorkan ke saya sebelum mengisi materi. Kebetulan bulan November ini beberpa kali aku ditanggap untuk berbagi pengalaman diberbagai forum. Mulai dari acara-acara anak BEM sampai acara Rohis. Salah satu kolom tersebut adalah kolom pertanyaan “pekerjaan”.

Secara pribadi aku akan membedakan dengan pemahamanku sendiri mengenai beda kata “pekerjaan” dengan “mata pencaharian”. Menurutku tidak selamanya pekerjaan itu bermakna juga mata pencaharian yang notabene berarti melakukan aktivitas tertentu yang tujuannya mendapatkan uang yang dipergunakan untuk memenuhi berbagai maslahat kehidupannya. Sedang mata pencaharian sudah barang tentu itu sebuah pekerjaan, entah bekerja dengan dirinya sendiri atau bekerja pada orang lain. Tapi itu definisiku. Boleh ngikut, boleh bikin sendiri. Monggoh…

Back to topic, terus apa pekerjaanku? Aku seringnya menulis, pekerjaanku adalah mahasiswa, herbalis, pengusaha, dan seorang trainer. Sampai aku lupa bahwa sebagai seorang muslim, sejatinya pekerjaan utamanya adalah berdakwah. Sempat aku malu membaca salah satu hadist dalam kitab Bulughul Mahram tentang Khalifah Utsman bin ‘Affan radiyallahu’anhu sebagai seorang kepala negara (jaman sekarang presiden) tetap mendakwahkan wudhu. Karena memang, beliau sadar bahwa dakwahlah yang menjadi pekerjaan utamanya tiap diri muslim. Untuk lebih jelasnya simak hadist tersebut:

Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. (HR. Muttafaq Alaihi).

Khalifah ke tiga ini tidak malu menyampaikan dakwah sedangkan kekuasaan negara islam pada waktu itu adalah di tangan beliau. Ya ini juga saah satu cermin sikap ketawadhuan beliau. Apalagi bagi sebagian orang, hal yang diajarkan oleh Khalifah Utsman merupakan perkara yang ‘remeh’, yakni mengajari wudhu. Akan tetapi secara hakiki tidak ada perkara yang remeh dalam hal berdakwah atau mendakwahkan sesuatu yang haq berasal dari Allah dan rasulnya .

Lebih spesifik masalah wudhu, banyak sekali kita dapati disekeliling kita manusia-manusia yang berwudhu belum sesuai dengan wudhunya nabi . Wudhunya masih belum benar. Bagaimana shalatnya akan diterima oleh Allah sedangkan wudhunya belum mengikuti kaidah-kaidah yang dituntunkan didalam Al Qur’an dan Sunnah. Sebagian lagi berwudhu tanpa ilmu, atau sudah tahu ilmunya akan tetapi dia malah lebih memilih pendapat si fulan atau si fulanah yang pernah didapatkannya. Mengajarkan wudhu yang sesuai dengan sunah nabi adalah suatu hal yang utama dan sangat utama. Lebih baik kita mengajari yang sedikit tetapi itu sunnah, daripada suatu hal yang nayak dan besar akan tetapi itu adalah suatu hal yang diada-adakan (bid’ah).

So, ingatlah selalu dimanapun kita berada, apapun pekerjaan kita, dakwahlah pekerjaan utama kita. Jia Yo!.