my INSPIRATION

TULILAH SAAT KITA MEMANG PERLU UNTUK TULI


By. Anjrah

Heehm… hari ini (4 Oktober 2009, pukul: 12.49 WIB) aku membaca buku diaryku. Kayaknya buku diary waktu aku awal-awal kuliah di Fakultas PSikologi UNiversitas DIPonegoro. Ada beberapa yang membuatku tersenyum sendiri membaca apa yang aku rasakan pada beberapa segmen hidup di waktu hidup tetapi ada juga yang memberiku tambahan energi dan semangat hidup.

Aku nulis waktu itu,”Ketika kita melakukan hal yang berbeda dengan orang lainuntuk mencapai impian kita, pasti orang banyak akan membicarakan kita. Bahkan ada yang terang-terangan mempengaruhi kita. Tetapi kalau kita MENDENGARKAN MEREKA sehingga MENGURUNGKAN tindakan kita untuk mencapai sukses, KITA AKAN BERAKHIR SEPERTI MEREKA. Seperti orang kebanyakkan, yaitu orang yang biasa-biasa saja”.

“Aha”, kataku dalam hati. Ya, aku memang sedang membutuhkan suntikan-suntikan motivasi. Alhamdulillah aku dapat dari buku diaryku sendiri. Ya, terkadang memang kita perlu tuli atau mengabaikan cas-cis-cus perkataan orang lain terhadap aktivitas kita mencapai sukses. Jangan sampai cas-cis-cus melemahkan diri kita bahkan sampai mengurungkan niat kita menuju sukses.

Prinsip tuli terhadap hal negatif ini juga diajarkan secara popular melalui cerita perlombaan katak. Pada suatu hari ada perlombaan memanjat menara. Perlombaan menghadirkan katak-katak yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Berbagai model katak turut serta untuk mencapai puncak menara. Setelah peluit tanda mulai ditiup, katak-katak terus bergegas melompat menaiki tangga demi tangga menara. Semakin lama semakin tinggi para penonton di bawah berteriak-teriak, “woi para katak, kamu sudah naik tinggi sekali”. Ada juga yang mengatakan,“awas jatuh” dan sebagainya. Sebagian kontestan mendengarkan teriakan-teriakan penonton, dia menyadari bahwa dirinya telah naik menara terlalu tinggi sehingga dirinya hilang konsentrasi lalu terjatuh. Tidak satu dua katak yang terjatuh, semua kontestan akhirnya terjatuh sampai tertinggal satu katak. Satu-satunya katak yang tersisa ini terus melompat dan akhirnya sampai puncak menara. Para penonton terpukau dengan katak tersebut. Para penonton dan kontestan lain merasa heran bagaimana bisa katak tersebut bisa mencapai kesuksesan yang demikian gemilang (bisa mencapai puncak menara). Setelah turun, katak ini diwawancarai, tetapi diam saja. Ternyata setelah diteliti, katak ini tuli alias tidak bisa mendengar.

Oke, ya memang saya tidak mengatakan dari cerita katak yang telah saya utarakan bahwa agar bisa sukses anda secara fisiologis harus menjadi orang tuli. Tetapi yangs aya maksudkan, ketika kita ingin sukses fokuslah ke target sukses yang ingin anda capai. Tak perlu kita hiraukan suara-suara sumbang yang bermaksud melemahkan bahkan menghalangi kitamencapai apa yang kita ingin capai. Bersikap tulilah terhadap suara-suara yang semacam itu. Peracaya diri, komitmen, dan teruslah bekerja keras untuk sukses. Ya seperti katak tuli tadi. Dia hanya ingin mencapai puncak menara sementara banyak kontestan lain yang berjatuhan sebab terpegaruh kata-kata negatif dari penonton maupun sesame kontestan lainnya.

Oke, semoga bisa menginspirasi. Sebagai penutup, di diary ini ada kutipan kata-kata mantan juara tinju dunia, “TOBE A CHAMPION, YOU HAVE TO BELIEVE IN YOUR SELF, WHEN NO BODY ELSE WILL”. Plus minusnya, mohon maaf…

Ambillah peran dalam dakwah islam,sebab tidak ada kata kecil dalam dakwah


Aku pernah mendengarkan ceramah pengajian yang dibawakan oleh Ust. Armen Halim Naro mengenai sebuah hadist yang menceritakan tentang seorang wanita yang dia mengkhususkan dalam kesehariannya untuk membersihkan masjid. Selengkapnya alhamdulillah saya telah saya dapatkan, berikut kutipannya:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah seorang wanita yang biasa membersihkan masjid. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan wanita tersebut, lalu mereka menjawab: Ia telah meninggal. Maka beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Mereka seakan-akan meremehkan urusannya. Beliau lalu bersabda: “Tunjukkan aku makamnya.” Lalu mereka menunjukkannya, kemudian beliau menyolatkannya. (HR Muttafaq Alaihi).

Muslim menambahkan: Kemudian beliau bersabda: “Sungguh kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan atas penghuninya dan sungguh Allah akan meneranginya untuk mereka dengan sholatku atas mereka”.

Dalam pandangan manusia secara umum, tentunya ‘profesi’ membersihkan masjid bukanlah termasuk ‘profesi’ yang bergengsi. Tidak sedikit bahkan diantaranya memandangnya remeh. Tetapi tidak demikian halnya dengan orang yang mengenal Allah subhanahu wata’ala dan negeri akhirat.

Sebagaimana pada hadist di atas dikatakan seakan-akan para sahabat meremehkan perihal wanita yang suka membersihkan masjid, tetapi tidak dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau menanyakannya dan bahkan ketika beliau tahu bahwa wanita itu meninggal,beliau ikut menshalatkannya. Adakah manusia yang lebih beruntung dari manusia yang ketika meninggal dishalati oleh Rasulullah?

Dari hadist di atas kita juga paham bahwa dalam tidak ada amal yang dipandang kecil ataupun remeh dalam islam. Setiap orang dengan kemampuannya dapat memberikan perannya kepada islam. Sampai-sampai wanita yang digambarkan dalam hadist di atas, wanita ini memberikan perannya sebagai orang yang membersihkan masjid Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan lihatlah penghargaan beliau terhadapnya.

Ditambahkan oleh Ustadz Armen, beliau juga menyampaikan sebuah kisah tentang Abu Mihjan Ats Tsaqofi rahimahullah ta’ala. Dengan topik, maksiat tidak menghalangi seseorang untuk berbuat baik dan memberikan perannya bagi islam. Sebab dengan dirinya sadar bahwa dirinya seorang ahli maksiat, seharusnya maksiatnya menjadi pemicu dirinya untuk lebih banyak beramal.

Dikisahkan bahwa Abu Mihjan Ats Tsaqofi rahimahullah ta’ala adalah seorang yang banyak meminum khamer. Ia seseorang yang selalu dihukum oleh amir oleh gubernur karena banyaknya dia minum khamer. Ia tidak pernah berhenti menerima hukuman dari minum khamer. Akan tetapi dia memiliki kebaikan yang tidak dimiliki kebanyakan kaum muslimin. Ia tidak rela islam dilecehkan dan dikalahkan.

Pada sebuah peperangan yang terjadi di Qadhisiyah. Ketika itu ‘Amr bin ‘Ash memenjara beliau. Ketika itu beliau (Abu Mihjan) mendengarpasukan romawi memukul pasukan muslimin. Ya mereka terpukul mundur, kemudian terdengarlah syairnya (syair dair Abu Mihjan-ed) yang masyhur bahwa permintaanya kepada istri ‘Amr bin ‘Ash untuk dirinya dilepaskan. Itu sebuah keutamaan yang dimiliki oleh seorang muslim yang maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala tetapi dia tidak berputus asa dia memiliki kelebihan yang dipunyai dirinya.

Untuk itulah semoga uraian sedikit tentang hadist di atas bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk memperbanyak amal kebaikan dan peran kita untuk islam. Sebagai penutup saya sampaikan kutipan perkataan Imam Malik yang disampaikan oleh ustad Armen, bahwabeliau (Imam Malik) mengatakan “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala membagi amal sebagaimana Allah membagi rizki. Innallaha qosamma at tho’at kama qosamamla arzaq, sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala memberikan ketaatan kepada seseorang sebagaimana Allah memberikan rizqi. Allah lebihkan, Allah kurangkan begitu seterusnya. Ketaatan begitu. Dan berapa banyak Allah bukakan, Kata Imam Malik, berapa banyak Allah bukakan pada puasa, tidak dibukakan pada shalat. Dan berapa banyak orang Allah bukakan untuk dimudahkan di dalam shalat tidak Allah bukakan di dalam pintu sedekah”. Maka hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin pada ibadah-ibadah dan potensi-potensi amal yang telah Allah mudahkan untuk diri kita masing-masing. Ingatlah pula bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak mempertanyakan hasil, Allah akan mempertanyakan perjuangan seorang hamba di dalam islam. Walalahu a’lam bishawab.

Pembahasan lengkap mengenai pembahasan di atas, bisa di download pada :http://search.4shared.com/network/search.jsp?searchName=kisah+juraij&searchExtention=&submitButton=Search&searchmode=2. Pemateri Ustadz Armen Halim Naro, judul ceramahnya KIsah Juraij 1-3. Semoga bermanfaat.

Karyawan Teroris???


Aku merasa aneh dengan pola pikir sebagian orang yang bersikap diskriminatif dengan style-style orang yang belajar lebih religius dalam mengamalkan ajaran agama islam. Adasebagian yang beranggapan style-style religius seperti orang yang memiliki jenggot, menggunakan celana panjang cungklang, tidak berkumis, berkerudung besar, bercadar, menggunakan gamis, dan tidak mau bersentuh dengan non mahram identik sebagai style teroris.

Padahal kalau kita mu cermati secara lebih jeli, akuilah bahwa style gembong teroris nomor satu Indonesia, Pak Noordin M. Top, malah tidak berpenampilan seperti demikian. Penampilannya biasa-biasa saja. Pelaku-pelaku lain yang dituduh membantu terornya Noordin juga bertampang biasa-biasa saja, contohnya si Boim alias Ibrohim, seorang floweris hotel J. W Marriot yang dituduh menjadi bagian jaringan teroris oleh polisi.

Sekalipun aku juga tidak menutup mata bahwa ADA SEBAGIAN oknum yang dituduh sebagai bagian jaringan Noordin yang memiliki style-style religiusseperti saya telah uraikan di atas. Tetapi mbok yao kita belajar secara objektif memandang manusia. Logika kita pasti menerima bahwa manusia memiliki banyak keanekaragamaan sifat dan perilaku. Jangan sampai perilaku dan sifat sebagian individu yang memiliki style tertentu secara gebyah uyah digeneralisasikan terhadap orang lain.

Ya seperti permasalahan style religius di atas. Sampai-sampai ada orangtua menyarankan kepada anaknya ketika akan berangkat melamar pekerjaan untuk menghilangkan style religius yang tampak padanya. Saya pikir, “Emangnya kenapa harus dihilangkan? Bukankah seharusnya para pemilik pabrik dan manajer senior lebih memilih mereka yang religius?”.

Logika berpikir saya begini. Style-style religius diterapkan dalam diri seseorang bukan tanpa alasan. Justru mereka memiliki alasan yang sangat kuat sebagai landasan pilihan mereka berpenampilan seperti itu. Mereka paham benar bahwa penampilan seperti itu merupakan wujud upaya kerasnya menaati aturan-aturan (disebut: syariat islam) yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Mereka menjadikan syariat islam sebagai barometer dari segala sisi kehidupannya. Tidak sekedar pada permasalahan transendental antaraindividu dengan Penciptanya, tetapi juga norma kehidupan bermasyarakat dan tata cara menjaga kebersihan diri di WC. Para ulama menjelaskan bahwa bagi mereka yang menjalankan syariat akan mendapatkan pahala dan berkesempatan untuk masuk surga, sedangkan bagi yang melanggar syariat akan memperoleh dosa dan baginya tempat di neraka.

Cermatilah. Terhadap sebuah aturan yang notabene reward dan punishment-nya relatif tidak langsung dirasakan dan tidak terlihat saja tetap berusaha untuk taat serta patuh. Mereka tetap shalat lima waktu, berpuasa pada bulan ramadhan, menggunakan jilbab, jujur, amanah, menepati janji saat ada atau tidak ada atasan yang melihat. Mereka meyakini ada Allah subhanahu wata’ala Yang Mahamelihat setiap detail perbuatannya.

Saya yakin tentunya tugas para manager perusahaan nantinya jadi lebih ringan manakala para karyawannya menjadikan syariat islam menjadi barometer dirinya. Para manager sebatas perlu menjelaskan bahwa jobdesk dan standar operasional prosedur (SOP) merupakan suatu amanah bagi dirinya. Sehubungan dengan topik amanah saya jadi teringat dengan tokoh Bang Acip dalam Sinetron Para Pencari Tuhan jilid 3 yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia. Di kisahkan pada salah satu episodenya bahwa Bang Acip diperintahkan oleh atasannya (Bu Aya) untuk mengantarkan barang. Bang Acip diberi bekal uang oleh kantor untuk membayar jasa ojek yang digunakannya. Ketika barang telah diantar, ternyata uang bekal dari kantor masih tersisa. Kalau saja tukang ojek tidak membawa kabur uang kembaliannya, Bang Acip yang ditokohkan sebagai tuna netra dalam sinetron tersebut, niscaya mengembalikan sisanya ke kantor. Bang Acip hanya mampu beristighfar dan merasa sangat bersalah sebab maksud mengembalikan uang sisa menjadi terhalang. Uang sisa tersebut dibawa pergi oleh si tukang ojek yang mengantarnya.

Karyawan disadarkan bahwa kontrak kerja tidak lain adalah salah satu akad perjanjian, Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya perintahkan untuk menepati setiap janji yang telah disepakati. Karyawan menepati janji dengan bekerja sesuai dengan akad yang telah disepakati. Di sisi lain, pihak perusahaan juga harus menepati janji-janji yang telah ditulis di kontrak kerja dengan karyawan.

Banyak benefit lain dari memperkerjakan karyawan-karyawan yang shalih dan taat beragama. Mereka jadikan kerja sebagai bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala yang harus dijalankan sesuai dengan syariat-Nya. Mereka berusaha dengan keras menjauhi perilaku-perilaku secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan yang menjadikan Allah subhanahu wata’ala tidak ridho kepadanya. Sekalipun memang kita tetap tidak menutup mata, ada sebagian individu yang menjadikan style-style religius untuk tujuan negatif. Sikap terbaik untuk menanggapinya secara pertengahan. Sebab memang sudah dipahami bersama bahwa setiap manusia lahir dengan potensi baik dan buruk.

Demikian tulisan ini susun dengan harapan bisa menjadi masukan kepada berbagai pihak agar bisa mencermati permasalahan style-style religius dari para pencari kerjasecara objektif dan proporsional. Bukan hal yang tidak mungkin, formulasi nilai keagamaan yang telah terinternalisasi dan tampak dalam penampilan mereka dikembangkan ke arah budaya kerja yang produktif dan profesional. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih.

By. Anjrah Ari S, 24 September 2009 at my home, prembun city.

Rel Kreta ini Serasa Shirath bagiku


Stasiun Tawang, Semarang, 6 Juli 2009, kurang lebih pukul 20.20 WIB. Aku sedang berada di dalam Kereta Senja Utama yang seharusnya pukul 20.00 WIB tadi berangkat menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Ehm…tadi sayup-sayup terdengar bahwa lokomotif kereta sedang mengalami permasalahan teknis. It’s oke, yang penting sekarang aku dah dapat tempat duduk.

Aku amati dari jendela kereta berbagai aktivitas yang dilakukan orang-orang di Stasiun Tawang. Aku lihat ada bapak-bapak yang sedang terdiam dengan tangan kanannya disandarkan ke tembok. Ada seorang ibu yang sedang merokok bersama bapak-bapak di tempat tunggu. Ada yang sibuk berbelanja bekal perjalanan, ada yang sedang makan, dan tidak lupa lalu lalang pedagang yang menawarkan aneka jenis dagangan. “Pop Mie, Pop Mie…. Mizone…Mizone… Kacang Rebus..”, ramai sekali suasananya.

Kereta tidak juga berjalan, tiba-tiba aku jatuh dalam renungan. Pikirku menerawang jauh ke masa depan. Aku rasakan bahwa perjalananku tidak lagi ke Jakarta, tetapi perjalan akhiratku menuju akhirat. Aku rasakan gerbong kereta yang aku naiki ini nantinya akan berjalan menuju Allah Subhanahu wata’ala. Aku dan orang-orang yang di dalam kereta ‘kebetulan’ menjadi orang-orang yang terpilih untuk lebih dulu menghadap Allah subhanahu wata’ala untuk mempertanggungjawabkan segala perilaku yang telah saya perbuat. Kamilah orang-orang yang amalnya akan dihisab (akan dihitung) kemudian ditimbang oleh timbangan amal yang sangat adil dan tepat takarannya. Orang-orang yang masih di stasiun, mereka masih menunggu gerbong yang akan membawa mereka. Ya Allah, hamba takut… Allahumaghfirli.

Bersamaan dengan itu terbayang banyak perbuatan-perbuatan maksiat yang telah aku lakukan. Ya Allah, Allahumaghfirli. Begitu banyak perilaku durhaka kepadaMu, begitu banyak kesombongan, dan keangkuhanku dalam melanggar syariat’Mu. Ya Allah…

Rel kereta ini tidak lagi sekedar aku lihat sebagai baja sejajar yang digunakan kereta sebagai jalan. Aku rasakan inilah shirath…jembatan shirath yang nantinya akan dilewati setiap manusia di akhirat. Sesiapa yang berhasil melewatinya akan masuk surga, dan sesiapa yang gagal melewatinya nerakalah tempat berakhirnya. Ya Allah, hamba mohon pertolonganMu…

Yang jelas aku jadi ingat hari akhirat. Aku juga ingat bahwa mati bisa terjadi setiap saat tanpa kita dikasih tahu terlebih dahulu. Maut akan datang seketika pas pada waktunya. Ya Allah… hamba memohon ridho dan surgamu, serta berlindung kepadaMu dari neraka dan murkaMu. Allahuma ini as aluka ridhoka wa jannah, wa’udzubika min sakhotika wa nar… Jadikankanlah hamba termasuk hambamu yang kau mudahkan melewati shirath dan aman dari kait-kaitanya yang menakutkan.

Ya demikian perenunganku saat melihat situasi di Stasiun Tawang, Semarang. Sesaat sebelum jalan menuju Pasar Senen. Ya, ke Jakarta dalam edisi interview di PT Swakarsa Sinar Sentosa. Sekian.

Polsek Prembun, Riwayatmu Kini


(diaryku, 7 Mei 2009 at Prembun City, Kebumen Metropolitan)
Awal mei 2009 saya melakukan liburan pasca wisuda di kota kelahiran saya di Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. Kembali ke prembun menghadirkan banyak nostalgia pengalaman masa kecil bersama teman-teman. Salah satunya berlatih beladiri di Kantor Polsek Prembun (lama). Masih terbayang semangat membara melakukan jurus-jurus silat yang diajarkan oleh guru-guru padepokan sampai rasa panas sebab latihan diadakan di halaman polres yang langsung ‘menantang’ matahari. Ehm… singkat cerita ada banyak kenangan baik suka maupun duka di bangunan yang sekarang ini difungsikan sebagai Asrama Polisi Prembun.
Kantor Polsek Prembun yang lama ini menurut masyarakat dibangun oleh Belanda. Dilihat dari bentuk konstruksi bangunannya saja sudah nampak kekhas londonya (Belandanya) seperti desain pintu, desain jendela yang tinggi, kerangka atapnya, dan bentuk bangunannya demikian tinggi serta luas.
Dahulu sebelum kantor polisi belum dipindahkan ke lokasi yang baru, kantor ini ramai dengan berbagai kesibukan polisi yang bertugas. Berbeda dengan sekarang, suasananya terlihat sepi serta terkesan angker pada malam hari. Ehm, tetapi kadang-kadang di waktu sore hari halamannya dipakai sepak bola oleh para pemuda desa prembun.
By the way, aku sedikit kaget dengan kondisinya yang sekarang. Kantor polisi tersebut tampak berantakan. Di sana sini terdapat pasir, semen, kayu-kayu, dan matrial bekas tembok. Ehm, ternyata sedang direnovasi.
What? Direnovasi?
Ya. Ternyata bangunan khas konstruksi belanda tersebut sedang direnovasi. Atapnya aja sekarang sudah mulai berubah, tadinya beratapkan ganteng, sekarang sudah berubah menjadi seng berwarna biru. Yang jadi pemikiran saya, “Waduh… tu mbongkar-mbongkar pake tenaga ahli yang tahu bangunan bersejarah apa tidak ya? Kan eman-eman banget jika bangunan bersejara tersebut dirubah sana-sini tanpa mempertimbangkan aspek historisnya!!!”.
Saya kemudian teringat dengan permasalahan bangunan bersejarah di kota Semarang (pasar johar dan lawang sewu). Rencana renovasi dua tempat bersejarah tersebut pernah menjadi perbincangan yang cukup menegangkan. Ya sih,setahu saya keduanya sudah menjadi Benda Cagar Budaya harus berhati-hati ketika mau melakukan renovasi. Renovasi dilakukan harus mempertimbangkan berbagai norma yang ada pada Undang-Undang No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.
Terus Kantor Polsek Prembun yang lama bagaimana?
Nah itu yang jadi keresahan saya selaku warga Negara Prembun. Sekalipun, setahu saya, Kantor Polsek Prembun belum disahkan menurut undang-undang sebagai benda cagar budaya. Ya setidaknya kan tetap memiliki nilai sejarah terutama bagi kota Prembun. Semestinya tetap perlu dilestarikan keberadaannya. Pelestarian tersebut mencangkup konsep, ya dilestarikan dengan bentuk aslinya. Tanpa diadakan perubahan-perubahan.
Saat saya kemarin (7 Mei 2009, pukul: 10.26) main ke kantor polsek prembun lama, saya sudah melihat bahwa atapnya akan dirubah (lihat foto). Aku berkata dalam hati, “Waduh, yang benar aja Pak Polisi, mosok atapnya dirubah begitu… atap dan gentengnya juga bernilai sejarah lho pak!”. Belum lagi bangunan dalamnya, sudah berubah banyak. Sepertinya tembok asli dari kantor tersebut dikelupas dan dipasang tembok baru.

Aku terus mengecek bangunan disekeliling kantor utama polsek prembun yang lama tersebut. Aku masih sedikit bersyukur bahwa bangunan disebelah kiri gedung utama yang konon dulu digunakan sebagai tempat menahan penjahat masih utuh. Temboknya masih original dengan lumutnya sebagai riasan yang menegaskan kesan sebagai bangunan kuno. Aku terus berpikir juga, “Syukurlah masih ada yang original. Tetapi, sampai beberapa hari ke depan paling-paling juga ‘tidak perawan’ lagi”.
Ya itu lah sedikit nostalgia saya dengan Polsek Prembun yang lama. Diprembun masih ada satu bekas bangunan kuno yang berlokasi dekat dengan Polsek Prembun Lama ini. Ada bangunan kuno yang mbah buyut saya sebelum wafat, seingat saya, pernah bercerita bahwa bangunan tersebut dulu adalah pabrik tebu dan masyarakat prembun dulu disuruh kerja paksa di situ.
Tulisan ini saya harapkan bias menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan dan sesiapa yang peduli dengan bangunan bersejarah disekitarnya. Benda-benda bersejarah, sebagaimana amanat UU No. 5 tahun 1992, merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.
Demikian salah satu hasil jalan-jalan di Prembun. Saya harus segera kembali lagi ke Semarang.

Ideku about Tinjomoyo


25 April 2009

Tinjomoyo dahulu terkenal sebagai salah satu pilihan tempat wisata yang banyak disukai warga Semarang. Keadaan alamnya yang bagus, udaranyanya sejuk, serta koleksi satwa yang cukup banyak. Saya mempunyai teman yang pada waktu kecilnya sangat sering berkunjung ke kebun binatang Tinjomoyo tersebut. Teman saya ini sangat menyukainya. Namun, sekarang kebun binatang telah dipindahkan ke daerah Mangkang. Ya sudah, Tinjomoyo jadi sepi. Tersisa hanya beberapa kandang yang konstruksi bangunannya suduh mulai rusak serta rumput-rumput liar tumbuh disana-sini.

Kebetulan saya pernah dilibatkan dalam tim outbond yang mengambil setting belajar di Tinjomoyo. Kami memilih lokasi Tinjomoyo sebab di sana yang jelas low price, dekat dengan kampus, pemandangan alamnya bernuansa bagus, dan banyak space-space terbuka untuk melakukan berbagai game outbond. Sedikit bukti bahwa pemandangannya yang bagus sebab Tinjomoyo masih sering digunakan untuk areal pemotretan model-model. Saya pernah menyaksikan sendiri prosesi pemotretan yang sedang dilaksanakan di Tinjomoyo.

Bila cermati lebih teliti, di Tinjomoyo sebenarnya sudah ada juga sarana outbond. Saya lihat ada pos diatas pohon yang sepertinya untuk flying fox dan beberapa permainan yang disiapkan menggunakan tali. Saya kurang tahu siapa yang mengelola permainan-permainan tersebut. Sepertinya masih bisa dipakai, sekalipun kalau saya sendiri masih kurang yakin tentang kualitasnya.

Ehm, yang jelas Tinjomoyo ini aset yang sangat berharga bagi masyarakat semarang. Menurut hemat saya, lokasi yang dekat dengan kampus, mudah dijangkau, berbagai kelebihan dari sisi panorama alamnya membuat Tinjomoyo menjadi pilihan untuk berbagai kegiatan. Terutama bagi mahasiswa bisa melakukan outbond di situ. Apabila instansi yang bertanggung jawab terhadap Tinjomoyo mau sedikit kreatif, yakni dengan memperbaiki sarana yang ada dilokasi seperti gedung-gedung bekas kantor. Gedung bekas kantor tersebut dimodifikasi sebagai gedung pertemuan mini yang bisa digunakan untuk para mahasiswa melakukan reorganisasi dan rapat-rapat keorganisasian di dalamnya. Selain itu dukungan dari factor ke amanan juga penting. Terus lagi listrik yang support buat pasang LCD, apa computer, dan pengeras suara. Ya intinya, Tinjomoyo aset yang terlalu sayang jika cuma ditinggalkan dan menjadi kenangan. Matur nuwun.

Wisuda dan bersyukur


27 april 2009, At Grand Candi Hotel, Semarang

Bersyukur, ya, sebagai hamba yang tahu diri kita wajib bersyukur. Alhamdulillah ya Rabb, hamba telah melakukan wisuda sebagai sarjana psikologi. Semua bisa terjadi hanya karena limpahan petunjuk, karunia, dan nikmat dari Mu. Semoga Engkau menerima panjatan syukur dari hamba dan menambah nikmat yang Engkau berikan, sebagai mana Engkau berfirman, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Wisuda pertama kalinya dalam hidup ini tidak begitu istimewa. Bagi saya, wisuda disyukuri dengan tidak dilaksanakan dengan hura-hura. Sungguh bersyukur yang demikian merupakan cerminan dari hati-hati kita yang mungkin telah mulai keras membatu. Bagaimana bisa kita berhura-hura merayakan kelulusan sedangkan masih banyak saudara, adik, dan teman kita yang untuk kesulitan untuk bersekolah. Bagaimana kita bisa berhura-hura digedung hotel berbintang sementara keadaan sekolah-sekolah saudara kita sedang menunggu waktu kapan ambruknya. Bagaimana bisa berpesta pora dengan berbagai menu makanan sedangkan masih banyak saudara kita yang mencari sesuap nasi saja sehari belum tentu dapat, sedangkan disini nasi dan lauk banyak yang terbuang sebab tidak dihabiskan pada saat makan. Ya Allah dalam keramaian wisuda ini hamba justru takut kepadaMu. Takut ditanyakan pertanggung jawaban atas semua itu kepada hamba.

Ya Allah, hamba tidak suka dengan mekanisme syukur dengan cara yang mahal begini. Padahal uang yang dipakai untuk bayar wisuda bisa digunakan untuk modal usaha atau perkara lain yang lebih bermanfaat dari sekedar menyanyi dan menyayi lagi, menari, makan-makan, dan sepaket acara protokoler wisuda. Catatan untuk nyayi, aku piker juga tidak digarap serius. Saat ada space untuk nyanyi, sebenarnya akan lebih baik jika ditawakan kepada hadirin yang datang mungkin akan membagi suaranya. Bukan dimonopoli panitia. Selain itu juga perhatikan pemilihan lagunya, wong yang dateng usianya sudah sepuh atau umurannya Koes Plus, malah nyanyian dan atraksi-atraksinya anak muda banget. Secara manajemen EO masih perlu banyak perbaikan. Cobalah suatu kali wisuda, para peserta wisuda diberi presentasi tentang pentingnya berbagai kepada sesama, bangkitkan mereka terhadap rasa kepedulian terhadap pendidikan. Bagaimanapun, Saya tetap menghargai panitia yang telah dengan upaya keras menyiapkan acara wisuda ini dengan sebaik-baiknya. Terima kasih semua.

Pada saat dinyanyikan lagu Padamu Negeri, miris hati saya. Saya diingatkan untuk sadara bahwa saya adalah seorang warga Negara Indonesia. Saya harus tahu diri yakni menghargai jasa para mujahidin yang dulu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tiap tetes darah mereka yang menetes, tiap rasa derita yang mereka rasakan, dan berbagai pengorbanan lain yang mereka ikhlaskan kepada Allah swt saat berjuang melawan penjajah dahulu. Saya tahu, saya harus melanjutkan perjuangan mereka. Saya harus amanah dengan bangsa ini. Sementara saya teringat dengan para koruptor dan pengkhianat bangsa, ya Allah jauhkan diri hamba dari perbuatan-perbuatan yang semacam itu serja jauhkan jangan sampai hamba tersentuh dalam perilaku haram tersebut. Sekedar catatan, saya secara pribadi tidak suka dengan kata-kata yang ada pada lagu Padamu Negeri. Pada baitnya terdapat ungkapan yang cenderung ke arah perilaku syirik kepada Allah swt.

Pada saat pidato salah satu wisudawan. Ya Allah, saya benar-benar berterima kasih kepada bapak-ibu dosen yang telah membimbing saya belajar. Share knowledge, share experience, share inspiration dengan kami. Jazakumullahu bi ahsanal jaza. Sekalipun masih terasa dongkol juga dengan oknum dosen yang terkadang dalam persepsi saya, mereka belum professional dalam mengajar. Belum begitu menguasai bahan materi atau mungkin memang pelit untuk membagi ilmunya. Ingatlah bapak ibu dosen, ilmu itu juga nantinya ditanya oleh Allah. So, lebih banyak lagi yang dibagi, lebih banyak lagi yang disharekan, atau kalau memang belum tahu, ya ga usah malu untuk belajar bersama. Toh sekarang iklim belajar dikampus sudah beralih ke sharing experience bukan mung transfer knowledge yang seperti biasanya panjenengan- panjenengan lakukan di kampus.

Saat melihat sejumlah anak kecil yang ikut hadir, saya teringat Heni. Heni adalah nama adik saya yang bungsu. Kebetulan dikarenakan alasan-alasan teknis pada hari Wisuda Fakultas tidak bisa datang. Ya Allah, aku ingin sekali dia datang, agar terinspirasi dengan banyak wisudawan yang hadir. Aku ingin sekali Heni kelak menjadi salah satu wisudawan di Kampus Negeri. Heni, semoga mas bisa menginspirasi kebaikan untukmu. Begitu pula bagi adik ke duaku, Wuri. Ya Allah, jadikan meraka sadar dan jujur akan pentingnya pendidikan untuk sarana beribadah kepadaMu.

Hal yang paling miris, aku belum bisa membagi moment ini dengan orang yang sangat special di hati. Ya Allah, aku lihat teman-teman wisudawanku membawa kekasihnya masing-masing. Memang jika masih pacar yang dibawa ke acara wisuda sih bagiku belum begitu membanggakan. Aku hanya berfikir, “Ya Allah aku ingin membagi moment ini dengan kekasih yang telah Kau kirimkan dan Kau halalkan untukku”. Ehm… ya sudahlah lawong keadaan sekarang memang begini. Ya Allah, hamba lebih bersyukur lagi manakala besok hamba bisa studi S2/ S3, lulus studi S2/ S3, dan ketika wisuda ada istri dan anak-anak hamba. Insya Allah terwujud.

Ehm, apa lagi ya… udah ah. Intinya syukur sudah wisuda. Sudah jadi Anjrah Ari Susanto, S.Psi.. Saya juga ucapkan barokallah kepada para wisudawan periode 114 Universitas Diponegoro. terutama teman-teman dari angkatan 2004 Fakultas Psikologi. By the way, setelah wisuda semoga bisa seperti harapan salah satu dosen yang saya hormati, ”Syukurlah, semoga akan disusul dengan keberhasilan-keberhasilan berikutnya. Amien…”. Insya Allah. TETAP SEMANGAT, Go SUKSES!!!

PEKERJAAN UTAMA ADALAH da’wah


Dhen Anjrah

Ehm aku sedang teringat salah satu kolom dalam CV yang kadang disodorkan ke saya sebelum mengisi materi. Kebetulan bulan November ini beberpa kali aku ditanggap untuk berbagi pengalaman diberbagai forum. Mulai dari acara-acara anak BEM sampai acara Rohis. Salah satu kolom tersebut adalah kolom pertanyaan “pekerjaan”.

Secara pribadi aku akan membedakan dengan pemahamanku sendiri mengenai beda kata “pekerjaan” dengan “mata pencaharian”. Menurutku tidak selamanya pekerjaan itu bermakna juga mata pencaharian yang notabene berarti melakukan aktivitas tertentu yang tujuannya mendapatkan uang yang dipergunakan untuk memenuhi berbagai maslahat kehidupannya. Sedang mata pencaharian sudah barang tentu itu sebuah pekerjaan, entah bekerja dengan dirinya sendiri atau bekerja pada orang lain. Tapi itu definisiku. Boleh ngikut, boleh bikin sendiri. Monggoh…

Back to topic, terus apa pekerjaanku? Aku seringnya menulis, pekerjaanku adalah mahasiswa, herbalis, pengusaha, dan seorang trainer. Sampai aku lupa bahwa sebagai seorang muslim, sejatinya pekerjaan utamanya adalah berdakwah. Sempat aku malu membaca salah satu hadist dalam kitab Bulughul Mahram tentang Khalifah Utsman bin ‘Affan radiyallahu’anhu sebagai seorang kepala negara (jaman sekarang presiden) tetap mendakwahkan wudhu. Karena memang, beliau sadar bahwa dakwahlah yang menjadi pekerjaan utamanya tiap diri muslim. Untuk lebih jelasnya simak hadist tersebut:

Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. (HR. Muttafaq Alaihi).

Khalifah ke tiga ini tidak malu menyampaikan dakwah sedangkan kekuasaan negara islam pada waktu itu adalah di tangan beliau. Ya ini juga saah satu cermin sikap ketawadhuan beliau. Apalagi bagi sebagian orang, hal yang diajarkan oleh Khalifah Utsman merupakan perkara yang ‘remeh’, yakni mengajari wudhu. Akan tetapi secara hakiki tidak ada perkara yang remeh dalam hal berdakwah atau mendakwahkan sesuatu yang haq berasal dari Allah dan rasulnya .

Lebih spesifik masalah wudhu, banyak sekali kita dapati disekeliling kita manusia-manusia yang berwudhu belum sesuai dengan wudhunya nabi . Wudhunya masih belum benar. Bagaimana shalatnya akan diterima oleh Allah sedangkan wudhunya belum mengikuti kaidah-kaidah yang dituntunkan didalam Al Qur’an dan Sunnah. Sebagian lagi berwudhu tanpa ilmu, atau sudah tahu ilmunya akan tetapi dia malah lebih memilih pendapat si fulan atau si fulanah yang pernah didapatkannya. Mengajarkan wudhu yang sesuai dengan sunah nabi adalah suatu hal yang utama dan sangat utama. Lebih baik kita mengajari yang sedikit tetapi itu sunnah, daripada suatu hal yang nayak dan besar akan tetapi itu adalah suatu hal yang diada-adakan (bid’ah).

So, ingatlah selalu dimanapun kita berada, apapun pekerjaan kita, dakwahlah pekerjaan utama kita. Jia Yo!.

Menjaga Amanah; Kisah ahli Kunci


Dhen @njRAH

Bulusan, 20 November 2008

Hari ini mau tidak mau kosku harus membayar listrik. Ya itu kalau tidak mau kena denda. Biasanya pembayaran listrik melebihi tanggal 20 akan dikenai denda. Ya semoga teman-teman ada duit. By the way, aku masih merasa kesal. Ya kesal terhadap salah seorang saudaraku yang meminjam salah satu CD. Semula dia berkata ingin meminta salah satu file tugas kuliah yang aku punya, lalu ku katakan datanya ada di CD. CD tersebut kemudian aku ambilkan lalu ku berikan kepadanya.

Beberapa menit berselang ia lalu mengembalikan CD tersebut. Ia katakan ia sudah mengambil filenya. Akan tetapi pada waktu mengambilkan CD ia mengeluarkan komentar negatif terhadapku yang dengan itu aku berkesimpulan bahwa dia telah membuka file-file lain yang ada di dalam CD tersebut (tanpa seijinku). Bahkan ia lupa mengucapkan terima kasih. Sekali lagi bukan faktor ucapan terima kasih atau saya jadi tidak ikhlash dalam memberikan materi kuliah saya. Bukan itu. Cuma sikap amanahnya.

Sudah jelas sejak awal konteks yang diakadkan walaupun tidak secara nyata dilakukan adalah file kuliah. Maka bukalah hanya yang berhubungan dengan file kuliah tersebut atau bahkan hanya file kuliah tersebut saja. Secara konvensi seharusnya ia bisa paham bahwa dirinya tidak diberikan licence untuk membuka file yang selain itu. Untuk lebih jelasnya saya akan ceritakan sebuah kisah terkait grundelan saya ini.

Pada suatu hari ada seorang ahli kunci yang akan melakukan pengijazahan ilmu kepada muridnya. Sekaligus dengan pengijazahan ilmu tersebut maka sang murid yang mendapatkannya akan dipercaya olehnya untuk melanjutkan tugasnya sebagai seorang guru ahli kunci. Kebetulan Sang Guru sudah berusia tua sehingga sudah waktunya ‘disegarkan’ oleh yang lebih muda dan tentunya telah teruji kapabilitasnya.

Maka Sang Guru melakukan sayembara kepada dua murid terakhirnya. Sayembara ini cukup sederhana, yakni sayembara membuka gembok kunci sebuah peti yang terletak di tempat yang sudah ditentukan oleh Sang Guru. Maka sayembara yang hakikatnya adalah ujian tersebut pun berjalan. Murid pertama masuk ke rumah yang ditentukan. Waktu terus berjalan. Akan tetapi tidak lama sudah keluar murid pertama dan berhasil membuka gembok kunci. Lalu masuk murid ke dua, murid kedua dengan waktu yang tidak begitu lama akhirnya berhasil pula.

Setelah sang murid berhasil memecahakan kombinasi kunci yang diujikan oleh gurunya, Sang Guru mengajukan satu pertanyaan kepada keduanya. Sang guru bertanya, ”Apa yang ada di dalam peti tersebut?”. Murid pertama menjawab tidak tahu, ia katakan, ia adalah seorang ahli kunci, maka tugasnya ya membuka kunci saja”. Pertanyaan yang sama diajukan kepada murid yang ke dua, dia menjawab, ”Wahai guru, saya melihat di dalamnya perhiasan-perhiasan yang menyejukkan mata. Ada berbagai bentuk dan rupa di dalamnya”. Gurunya mengatakan,”Benar, itulah isinya”.

Sang guru terdiam dan mengangguk-angguk mendengar jawaban ke dua muridnya tersebut. Tidak lama berselang, ia berkata, ”Wahai murid pertamaku, engkaulah yang lulus ujian dan yang berhak mewarisiku sebagai guru ahli kunci di padepokan ini”. Dengan tetap menghargai keputusan gurunya tersebut, murid ke dua yang keheranan dengan keputusan akhir gurunya ini kemudian bertanya,”Ya guru, sayakan yang bisa menjawab pertanyaan ke dua, dan gurupun membenarkannya. Tetapi saya masih belum mengerti mengapa murid pertama yang lulus dan mewarisi padepokan ini?”. Sang Guru kembali tersenyum terhadap ke dua muridnya, Sang Guru berkata,”Tugas seorang ahli kunci adalah memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami masalah terhadap berbagai kunci yang ada padanya. Tugasnya adalah sekedar membuka gembok atau kunci yang bermasalah tadi. Hanya itu”. Jawaban yang singkat oleh Sang Guru langsung dapat dimengerti oleh ke dua muridnya. Sang Guru ternyata telah mengajarkan ilmu yang sangat penting melebihi berbagai taktik menaklukan kunci dan gembok yang telah beliau ajarkan, yakni ilmu tentang menjaga amanah.

Melalui ilustrasi kisah ahli kunci di atas saya yakin pembaca sudah mengerti apa sebab murid yan pertama yang lulus dan berhak mewarisi padepokan ahli kunci. Padahal ia tidak dapat menjawab pertanyaan ke dua yang disampaikan Sang Guru. Dari kisah tersebut saya pun jadi semakin paham terhadap sikap salah seorang teman saya yang membuka jasa servis computer. Suatu ketika saya datang ke ‘kantornya’, teman saya ini sedang sibuk menservis komputer dan mencari dimanakah virus komputer tersebut bersarang. Saya mengamati dengan seksama apa yang dia lakukan. Sampai pada suatu saat saya melihat ada file-file lagu yang sudah lama saya cari-cari ada di dalam komputer yang sedang diservis oleh teman saya ini. Dengan rasa tanpa sungkan-sungkan saya berkata kepadanya yang intinya minta ijin untuk mengcopy file lagu tersebut dari dalam komputer yang tengah diservisnya. Namun dia tidak mengijinkannya. Dia katakan saya bahwa tugas saya adalah menservis komputer ini. Sang pemilik telah mempercayakan komputer ini kepada saya. Saya tidak diamanatkan untuk yang selain apa yang telah sang pemilik amanahkan kepada saya. Dia memohon maaf kepada saya, dan dia katakan tetap tidak bisa. Sekalipun saya sudah mencoba melakukan serangkaian rasionalisasi untuk memuluskan maksud saya mengcopy file tersebut.

Pada akhirnya saya tetap tidak dapat mengcopy file tersebut, sedikit sedih sih. Akan tetapi saya sangat berbahagia, saya telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga mengenai menjaga amanah dari teman saya tersebut. Alhamdulillah. Sehubungan dengan amanah aku jadi teringat dengan firman Allah ,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS. Al Anfaal: 27). Dan dalam hadist telah disebutkan mengenai warning tentang sifat-sifat orang munafik, rasul bersabda,” Ada empat hal, yang jika ada pada seseorang maka ia menjadi munafik sesungguhnya, dan jika orang memiliki kebiasaan salah satu daripadanya, berarti ia memiliki kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya. Bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertengkar, ia berucap kotor (HR. Muttafa’Alaih). Dalam hadist lain nabi bersabda,”Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat” (HR. Muttafaq’ Alaihi). Bahkan ancaman sangat keras Allah tujukan kepada orang munafik, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS.An Nisa 145).

Ya Allah tambahlah ilmu untuk hamba, pahamkan hamba atas islmu yang telah engkau karuniakan. Jadikan hamba terhindar dari sifat-sifat orang munafik. Jadikanlah hamba bisa mengemban amanah dengan sebaik-baiknya sekecil amanah apapun itu. Ampunilah dosa-dosa hamba. Engkaulah Yang Mahapengampun”.

SUKSESKAN AKSI, HARGA MATI!!!!


(Refleksi QS. Al Ashr 1-3 dan QS. Al Maa’idah: 2)

Alhamdulillah, segala al Hamd kita tujukan kepada Allah Rabb semesta alam. Dialah Allah yang menguasai hati kita. Allah jua yang memberikan kita hidayah dan petunjuk sehingga detik ini kita masih dalam keadaan beriman kepadaNya. Padahal dalam detik yang sama banyak manusia tidak melakukan kekufuran kepadaNya dan tidak sedikit pula yang dipalingkan hatinya menuju ke kesesatan. Oleh karena itu hendaklah kita bersyukur Ar Rahman yang masih menjaga cahaya iman dan islam dalam diri kita. Shalawat dan salam kepada Rasulullah , rasul mulia yang sangat mengasihi kita (insya Allah kita termasuk bagian dari umatnya), kepadanya kita sepatutnya malu. Beliau (rasulullah) sangat memperhatikan kita akan tetapi kebanyakkan dari kita justru sering menyakiti hatinya, kita sering sekali lalai atau melalaikan diri dari melakukan apa-apa yang diperintahkan sebaliknya kita merasa sombong melakukan kemaksiatan yang dilarang olehnya. Semoga kelak kita termasuk orang yang terpilih untuk mendapatkan syafaatnya. Amma ba’du.

Ikhwani wa akhowat fillah rahimakumullah…

Allah berfirman,”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Surat di atas merupakan surat pendek yang sering kali kita baca, kita dengar, dan sebagian kita Allah mudahkan daripadanya untuk menghafal. Surat Al ‘Ashr termasuk surat makkiyah, diturunkan sebelum hijrah. Surat Al ‘Ashr jika kita cermati terdiri atas 3 ayat, 14 kalimat, dan 68 huruf. Para ulama memberikan perhatian yang besar terhadap surat Al ‘Ashr sebab dalam keringkasannya terkandung banyak sekali manfaat bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Imam Asy Syafi’I rahimahullah pernah berkata,”Andaikata manusia benar-benar memperhatikan isi surta ini niscaya akan cukup untuk mengubah keadaan mereka, pendirian, dan amal kelakuan mereka”. Sampai Ubaidillah bin Hishin berkata bahwa biasa terjadi di masa lalu jika dua orang sahabat bertemu lalu salah satunya membaca surat Wal ‘Ashri kemudian berpisahlah keduanya dengan salam.

Sebelum kita berbicara lebih jauh, mari kita cermati tafsir surat ini. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa di dalam surat ini Allah menyuruh menganjurkan supaya kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh sejarah manusia sepanjang masa, di mana juga mereka berada, supaya mendapatkan suatu bukti kenyataan bahwa semua perjuangan usaha mereka sia-sia belaka bahkan merugi dan kecewa, kecuali manusia yang beriman, mengikuti tuntunan ajaran para nabi, rasul yang diutus Allah untuk memimpin manusia ke jalan yang yang dicita-citakan oleh manusia itu sendiri, yaitu hidup aman, sejahtera, dan bahagia dunia akhirat. Dan iman tidak akan berbukti kecuali dengan amal shalih, sedang keduanya tidak akan merata kepada semua lapisan masyarakat kecuali dengan dakwah yaitu ingat-mengingatkan untuk kembali berpegang, berlandaskan yang haq, kemudian selalu berpesan supaya sabar, tabah hati tidak mudah terpengaruh oleh bisikan, rayuan dari siapapun dan apapun. Seakan-akan surat ini memberikan kepada umat islam kunci bahagia dan sejahtera hidup sepanjang masa dan di mana saja.

Tafsiran di atas memberikan inspirasi yang sangat banyak kepada kita. Allah Yang Mahatahu tentang diri kita, apa sebenarnya tujuan-tujuan hakiki yang ingin kita capai, kita raih telah memberikan petunjuk untuk mendapatkannya. Dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya di atas bahwa tujuan hakiki tersebut adalah aman, sejahtera, dan bahagia dunia akhirat. Akan tetapi tidak berhenti sampai penjabaran tujuan hakiki dari setiap manusia, ayat tersebut pun memberikan petunjuk bagaimana cara mencapainya. Tentunya dengan sebaik-baik cara yang menghantarkan seseorang yang menempuhnya sampai pada tujuan hakiki tersebut. Dengan kata lain, jika seseorang menempuh cara-cara selain yang dituntunkan pada surat Al ‘Ashr, maka yang ditemuinya adalah kebingungan dan kesesatan. So, jika ingin sampai pada keadaan aman, sejahtera, dan bahagia dunia akhirat ya gunakan Al ‘Ashr way’s.

AKSI SKRIPSI

Sehubungan dengan bahasan di atas, insya Allah proses dan jalur-jalur Al ‘Ashr way’slah yang kita tempuh dan kita menjadikannya ‘talang air’ atas segala amal-amal yang dilakukan saat merumuskan, mempersiapkan, memasarkan, melaksanakan secara profesional di hari H, dan pada saat melakukan evaluasi tentangnya. Ketika kita jadikan sebagai talang air maka logikanya adalah air (kita) mengalir mengikuti ‘talang’ tersebut.

Dalam AKSI SKRIPSI ini kita berkeras tenaga merealisasikan bukti keimanan kita kepada Allah dan rasulNya yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah. Seperti Allah memerintahkan kita untuk berdakwah, Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imron:110). Kita aktualisasikan dengan berbagai amal shalih sesuai dengan apa yang sudah diamanahkan kepada kita.

Seorang PJ Utama AKSI beramal shalih dengan mengkoordinasi saudara-saudaranya diberbagai bidang amanah yang diberikan agar bisa sampai pada tujuan acara. Seorang seksi acara beramal shalih dengan mengcreate acara agar menarik, kondusif, nyaman dengan seoptimal mungkin agar output kegiatan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Bendahara sebagai salah satu elemen kunci yang menjadi sebab berdenyutnya AKSI harus amanah dengan manajemen dana. Mulai dari koordinasi dengan sekretaris mengurus proposal kegiatan sampai manajemen keuangan (dana proposal, dana kontribusi peserta, dana lain) saat pelaksanaan acara agar dana minimal tetap dalam kondisi balance. Seksi transportasi amanah terhadap ketepatan waktu pemberangkatan dan kepulangan secara safe serta secure, memastikan kelaikkan jalan bagi kendaraan yang membawa peserta menuju tujuan acara, lalu memastikan adanya sarana transportasi sesuai kebutuhan acara sampai masalah pembiayaan. Seksi Konsumsi beramal shalih dengan mengusahakan konsumsi yang tepat waktu, terjaga kehalalan dan tingkat “thoyibbisitasnya” sehingga dimakan menyehatkan, mengenyangkan, memberikan tenaga dan semangat kuat –energi keshalihan- bagi peserta atau panitia memaksimalkan potensi amalnya dalam kegiatan AKSI. Seksi Publikasi sebagai corong AKSI beramal shalih dengan memperluas seluas-luasnya kesempatan para mahasiswa memperoleh manfaat kebaikan dari esensi dakwah yang ada di dalam AKSI. Semangatnya membara untuk membagi informasi melalui berbagai media yang Allah mudahkan baginya yakni ajakan persuasif yang ia torehkan melalui pamflet, selebaran kecil, poster di mading, pengkoordinasian dengan pementor, perekrutan significant others pada mahasiswa yang dijadikan target pasar untuk menyukseskan acara ini. Kemudian Seksi Perlengkapan beramal shalih dengan sikapnya yang amanah terhadap manajerial segala sarana yang mendukung kesuksesan acara. Sejak awal ia bertugas membuat daftar kebutuhan dari tiap seksi, ia pisah-pisahkan mana sarana yang musti disiapkan oleh seksi yang terkait atau secara khusus oleh seksi perlengkapan. Ia bertanggungajawab pula atas sarana-sarana yang dibawa ke lokasi sampai sarana itu kembali pada posisi awalnya (jika barang pinjaman;pastikan sudah dikembalikan).

Kesemua bidang dalam kepanitian bekerja secara integrated, saling mengisi, saling mengingatkan, dan mengutamakan komunikasi selama melaksanakan tugas. PJ Utama Kegiatan AKSI yang fungsinya sebagai koordinator hendaknya memfasilitasi komunikasi yang efektif melalui syuro-syuro, ataupun melalui sarana komunikasi yang formal/informal lainnya. Disinilah kita mencoba belajar melakukan amal jama’I dan ta’awun dalam taat dan taqwa kepada Allah . Allah berfirman,”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al Maa’idah:2).

At last, ingat-ingatlah selalu keutamaan orang yang berdakwah dijalan Allah selama berproses melangsungkan PERHELATAN AKBAR DAKWAH PSIKOLOGI bernama AKSI ini. Rajin-rajinlah untuk selalu meluruskan niat ajarilah hati kita ikhlash semata-mata mengharap Wajah Allah dalam AKSI ini. Karena hanya dengan begitu kita insya Allah akan mendapatkan pertolongan Allah. Karena sadarilah, terutama dalam agenda-agenda dakwah kita, seberapapun efektif, profesional, solidnya suatu kepanitiaan tidak akan mampu menyukseskannya. Hanya atas pertolongan Allah (nashrullah) semata acara akan sukses. Tugas kita WAJIB MEMAKSIMALKAN IKHTIAR untuk mengusahakan sebab-sebab datangnya pertolongan Allah tersebut. Salah satunya adalah dengan doa. Masing-masing panitia mintalah pertolongan kepada Allah agar kegiatan ini sukses, pesertanya OPTIMAL, dimudahkan dalam segala prosesnya, dan semoga melalui acara ini baik peserta maupun panitia bisa memperoleh manfaat dunia akhrat. Wallahu a’lam. AYO TETAP SEMANGAT dan TULARKAN!

SUKSESKAN AKSI, HARGA MATI!!!!!!

By. MS, dedicated for AKSI