my INSPIRATION


KALA KEKASIH PUJAAN HATI ‘DIAMBIL’ ORANG

By. Anjrah As.

Sakit. Ya sakit itu perasaan umum yang kita rasakan saat pria atau wanita yang kita sukai dan kita idam-idamkan ‘diambil’ orang. Lebih pedih lagi jika kita telah berusaha mempersiapkan segalanya, sampai seakan pernikahan sudah di depan mata, ternyata berakhir dengan kegagalan.Berlepas dari usaha yang dilakukan itu halal ataupun haram, intinya adalah salah satu dari pasangan kekasih atau dua-duanya telah mengusahakannya.

Tidak usah membicarakan yang jauh terlebih dahulu. Kita ambil pelajaran dari teman-teman kita yang berpacaran. Tidak jarang teman-teman yang berpacaran itu melihat satu sama lain bahwa di masa depan meraka akan tetap hidup bersama (baca: menikah). Maka banyak aktivitas keseharian yang dilakukan selama berpacaran sudah seperti ketika mereka sudah benar-benar menikah.

Awalnya memang baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu timbul masalah lalu putus. Ya tabiat pacaran kan memang demikian, relatif mudah putus, kadang juga relatif mudah sambung. Tidak usah heran karena memang saat orang berpacaran tidak ada filosofi fundamental yang bisa dijadikan pondasi kelanggengan hubungan ‘asmara’ tersebut.

Kalau putus yang benar-benar putus sih sebenarnya cenderung ringan. Adakalanya ketika sudah putus, ternyata masih ada cinta yang menggelora. Masih ada hasrat untuk bisa melanjutkan hubungan asmara yang pernah terjalin bersama sang ke kasih. Tanpa di sangka-sangka, di tengah periode putus itu datanglah pria/wanita kepada mantan kekasih kita. Tidak lain tidak bukan ternyata pria/ wanita (bisa pacarnya yang dulu, orang baru, malah teman dekat kita) kemudian melamarnya dan menikahinya. Duh… hancur… hancur hati dibuatnya.

But it’s oke, Life must going on. Sedih itu wajar, tetapi bersedih berlebihan itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Sudah lah ikhlaskan saja. Makna ikhlas disini bukan lantas kita berpikir, “Ah… pria/wanita yang lain juga masih banyak”. Namun kita kembalikan pada iman kepada Qadha dan Qadar. Kita juga perbaiki iman kita kepada Allah Yang Mahapengatur lagi Mahamengetahui.

Allah yang mengetahui yang pria/wanita yang paling baik menjadi teman hidup kita. Boleh jadi kita menikah dengan wanita yang kita pilih semata-mata dengan pilihan kita sendiri, ternyata di masa depan dia justru menjadi muara penderitaan kita di dunia dan akhirat. Ingatlah Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Ikhlaskan… ikhlaskan. Pasrahkan kepada Allah semuanya. Biarkan orang lain ‘mengambil’ kekasih hati kita. Toh kalau jodoh dia tidak akan kemana. Jodoh kita juga tidak akan tertukar apa lagi meleset dari apa yang telah ditulis Allah subhanahu wata’ala. Ambilah ibroh dari beberapa kisah cinta berikut:

  1. Kisahcinta abadi nabi Yusuf alaihi salam dengan Zulaikhah.

Saya yakin sudah banyak yang mengetahui kisah cinta yang agung ini. Sebagaimana yang kita tahu dari yang dikisahkan dalam Al Qur’an bahwa sosok Nabi alaihi salam adalah pemuda yang Allah berikan kepadanya ketampanan, kebaikan Akhlaq, dan banyak kesempurnaan lahiriah juga batiniah lainnya. Sampai pada kisah Zulaikah yang tergoda dengan Nabi Yusuf alaihi salam lalu memaksa Nabi Yusuf alaihi salam untuk melakukan perbuatan maksiat (berzina). Nabi Yusuf alaihi salam pun sebenarnya telah tergoda mengikuti ajakan Zulaikha. Namun dengan pertolongan Allah subhanahu wata’ala Nabi Yusuf alaihi salam bisa lulus dari cobaan tersebut.

Pada tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa pada akhirnya setelah Zulaikah bercerai dengan suaminya, kemudian Nabi Yusuf alaihi salam menikahinya. Zulaikha telah bercerai dengan suaminya. Akhirnya Zulaikah bisa memiliki kekasih pujaan hatinya dengan cara yang lebih baik dan berkah. Tidak seperti pada kisah awalnya dimana Zulaikah ingin secara paksa dan melalui jalan yang buruk (zina) untuk memiliki Nabi Yusuf alaihi salam. Allah berikan jalan yang lebih baik, yakni melalui pernikahan. Ya tidak perlu kita memaksakan diri atau orang lain, bila emang dia jodoh kita, pasti kembali kepada kita.

  1. Kisah Ummu Salamah Radhiyallahu’anha. Ummu salamah memiliki suami bernama Abu Salamah. Setelah sekianlama berumah tangga, pada suatu hari kekasih pujaan hatinya, Abu Salamah, meninggal dunia. Kita tentunya sudah paham bagaimana dinamika perasaan saat kita mendapatkan musibah seperti yang dialami Ummu Salamah radiyallahu’anha di atas.

Hanya saja Ummu Salamah tidak larut dalam kesedihan yang terlalu dalam, Ummu Salamah ingat bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah lalu membaca: ‘Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun’, dan mengucapkan, ‘Allahuma’jurnii fiimushiibatii wakhluflii khoiron minhaa (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah buatku dengan yang lebih baik daripada musibah ini)’, melainkan dia akan diberi ganti oleh Allah (HR. Ahmad). Ummu Salamah lalu membaca doa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah ajarkan. Luar biasa, Ummu Salamah kemudian berkata, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku membaca doa seperti yang diperintahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka Allah memberi ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Pada kisah ini, perhatikan sikap ikhlash Ummu Salamah radhiyallahu’anha dan keimanannya kepada segala tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam menghadapi musibah kehilangan kekasih hatinya. Luar biasa sekali, Allah subhanahu wata’ala bayar tunai serta dengan ganti yang lebih baik. Ya singkatnya, bila kita mendapat musibah ditinggal ke kasih hati kita, santai saja. Ikutilah ‘rumus’ yang telah di ajarkan Ummu Salamah radhiyallahu’anha di atas. Semoga diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala, mendapat pahala dariNya, sekaligus dapat ganti yang lebih baik.

  1. Kisah cinta kontemporer antara tokoh Khairul ‘Azzam dengan Anna Althofunnisa pada novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya Kang Abik. Ya kisah ini kisah tambahan untuk menambah keimanan kita tentang kuatnya qadarullah (takdir Allah subhanahu wata’ala)mengatur perjodohan hamba-hambaNya.

Pada awal novel kita belum tahu bahwa Khoirul Azzam kelak ternyata jodohnya adalah Anna Althofunnisa. Bahkan yang kita tahu Anna menikah dengan tokoh Furqon. Kita juga tidak pernah tahu pada setelah Anna menikah dengan Furqon, ternyata Furqon belum pernah bisa sekalipun ‘menyentuh’ Anna. Ada berbagai qadarullah yang mengatur semuanya. Sampai pada akhirnya Anna bercerai dengan Furqon. Setelah bercerai dengan Furqon takdir Allah mempertemukan dengan Khoirul Azzam, sosok pemuda yang menolong Anna saat Anna dahulu kehilangan kitab-kitab kuliahnya, lalu menikah dengannya.

Ya sekali lagi, kalau memang bukan jatahnya, mau pusing dipikir bagaimana kita membuat skenarionya, kita juga tidak akan bisa merubah tinta takdir yang telah tertulis di Lauhil Mahfudz. Allah subhanahu wata’ala telah mengatur semuanya.

Akhirya, kala kekasih pujaan hati diambil orang ataupun akan diambil orang, ya biasa-biasa saja dan tenang. Kita berusahalah lagi. Kerjakan hal-hal yang produktif dengan sungguh-sungguh agar segera menemukan ‘jodoh asli’ kita. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ”Bersungguh-sungguh dalam menuntut apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kegagalan, janganlah kamu berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu’, tetapi katakanlah, ‘Qaddarallahu wamaa sya- a fa’ala’ (Ini telah ditakdirkan Allah dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki), karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan syetan” (HR.Muslim).

Ingat juga untuk mengistikharohkannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita musyawarahkan kepadaNya Yang Mahatahu apa-apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita munajat meminta petunjuk kepadanya (pada semua urusan, tidak cuma masalah jodoh saja) melalui shalat istikharoh agar apa-apa yang terbaik dimudahkan kita untuk mendapatkannya serta memberi berkah. Sedangkan jika itu adalah keburukan maka Allah hindarkan dan menuntun kita kepada yang lebih baik.

Pas sudah dapat terus kita dapati kekurangan-kekurangan pada jodoh kita, bersabarlah. Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ia memiliki kekurangan, pasti dia juga memiliki kebaikan-kebaikan. Ingatlah Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS. An Nisaa: 19). Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber bacaan:

Abdurrahman, Syaikh bin Hasan Alu Syaikh. 2002. Fathul Majid Edisi Indonesia. Jakarta: Pustaka Azzam

Abul Fida, Imamuddin. 2004. Tafsir Singkat Ibnu Katsir jilid 1. Surabaya: PT. Bina Ilmu

Al Qarni, ‘Aidh bin Abdullah. 2004. La Tahzan. Bandung: Irsyad Baitus Salam

Kala Buah hati tak kunjung datang

By. Anjrah Ari S.

Sesuatu yang wajar manakala pasangan suami istri (pasutri) mengharapkan hadirnya buah hati (anak) dalam pernikahannya. Mereka menanti hadirnya anak yang bisa menambah lengkapnya kebahagiaan dalam hidup serta menjadi ‘investasi’ di dunia juga akhirat.

Anak merupakan rizki dari Allah SWT. Sebagaimana tabiat rizki pada umumnya, ada sebagian pasutri yang Allah mudahkan memperolehnya dan ada sebagian lain yang butuh perjuangan keras untuk mendapatkannya. Ada yang menanti-nanti lama sekali, belum juga muncul tanda-tanda hadirnya sang buah hati.Di sisi lain ada yang Allah mudahkan, tetapi justru kehadirannya tidak diharapkan.

Teladan yang baik adalah nabi Ibrohim ‘alaihi shalatu wa salam saat menanti harinya sang buah hati. Nabi Ibrohim berdoa mengharapkan untuk mempunyai buah hati, ”Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Ash Shaaffat: 100). Allah SWT pun mengabulkan doanya 80 tahun kemudian (Nabi Ismail ‘alaihi shalatu wasalam).

Begitu pula Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam, Allah mengisahkan dalam firmanNya, “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS. Al Anbiyaa’: 89). Nabi Zakaria berdoa kepada Allah agar mengkaruniakan kepadanya anak. Anak yang akan mewarisinya melanjutkan usahanya dan tugasnya memimpin umat.

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam, Allah SWT berfirman, “Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas . Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (QS. Al Anbiyaa’: 89).

Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam pun bahagia bercampur heran. Bagaimana tidak, dirinya adalah suami yang telah lanjut usia. Istrinya juga seorang wanita yang mandul dan usianya sudah lanjut pula. Istri Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam sepanjang hidupnya belum pernah mengandung apalagi melahirkan Anak. Nabi Zakaria ‘alaihi shalatu wasalam berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua” (QS. Maryam: 8) .

Allah SWT menjawab, “Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali” (QS. Maryam: 9).Tak ada yang sulit bagi Allah SWT untuk membuat seorang yang mandul bisa mengandung dan melahirkan Anak. Tak ada sesuatu yang mustahil pula bagi Allah Yang Mahabesar dan Yang Mahakuasa. Bahkan pada seseorang wanita tidak memiliki suami dan belum pernah disentuh laki-laki, Allah bisa jadikan dirinya mengandung dan melahirkan anak (Maryam, Ibu Nabi Isa ‘alaihi shalatu wasalam).

Bagaimanapun, kita harus sadari bahwa baik yang cepat atau yang kurang cepat memperoleh anak secara hakiki adalah ujian dari Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Ath Taghaabun: 15). Tidak sedikit yang Allah SWT beri anak, tetapi justru semakin jauh dirinya dari Allah swt. Hadirnya anak menjadi bencana bagi tingkat keshalihan dirinya. Kadang-kadang anak malah menjadi malapetaka bagi kedua orangtuanya (durhaka, akhlaqnya buruk, menjadi penderitaan dunia-akhirat), sampai-sampai orangtuanya berkata, “Kiranya aku tidak kau karuniani anak saja ya Rabb”.

Beruntung bagi orangtua yang dikaruniai anak yang kemudian mereka asuh dengan baik. Mereka mensyukuri dengan baik, yakni dengan mengenalkan sang anak dengan Allah SWT, Rasul SAW, dan Al qur’an sehingga tercermin dalam akhlaq kesehariannya. Sang anak menjadi qurrotu a’yun (penyejuk mata) baginya. Namun, hal inipun juga termasuk ujian dari Allah swt. Tidak sedikit orangtua yang mendidik anaknya dengan segala kebaikan justru dirinya lalai dari kebaikan yang dia ajarkan.

Bagi orangtua yang telah diberi anak, ingatlah untuk berdoa sebagai mana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihi shalatu wasalam, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 40-41). Atau doa-doa lain yang dianjurkan dalam Al qur’an dan As Sunnah yang Shahih.

Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat buat kita semua. Teruslah menjaga ketaqwaan, berpikir optimis, beriktiar semaksimalnya, dan bertawakallah. Mari kita tutup dengan doa, “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon: 74). Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka:

Hammam, Hasan bin Ahmad Hasan. 2007. Perilaku Nabi Terhadap Anak-Anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam

Katsir, Ibnu. 2005. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4,5,7. Surabaya: PT. Bina Ilmu

TULILAH SAAT KITA MEMANG PERLU UNTUK TULI

By. Anjrah

Heehm… hari ini (4 Oktober 2009, pukul: 12.49 WIB) aku membaca buku diaryku. Kayaknya buku diary waktu aku awal-awal kuliah di Fakultas PSikologi UNiversitas DIPonegoro. Ada beberapa yang membuatku tersenyum sendiri membaca apa yang aku rasakan pada beberapa segmen hidup di waktu hidup tetapi ada juga yang memberiku tambahan energi dan semangat hidup.

Aku nulis waktu itu,”Ketika kita melakukan hal yang berbeda dengan orang lainuntuk mencapai impian kita, pasti orang banyak akan membicarakan kita. Bahkan ada yang terang-terangan mempengaruhi kita. Tetapi kalau kita MENDENGARKAN MEREKA sehingga MENGURUNGKAN tindakan kita untuk mencapai sukses, KITA AKAN BERAKHIR SEPERTI MEREKA. Seperti orang kebanyakkan, yaitu orang yang biasa-biasa saja”.

“Aha”, kataku dalam hati. Ya, aku memang sedang membutuhkan suntikan-suntikan motivasi. Alhamdulillah aku dapat dari buku diaryku sendiri. Ya, terkadang memang kita perlu tuli atau mengabaikan cas-cis-cus perkataan orang lain terhadap aktivitas kita mencapai sukses. Jangan sampai cas-cis-cus melemahkan diri kita bahkan sampai mengurungkan niat kita menuju sukses.

Prinsip tuli terhadap hal negatif ini juga diajarkan secara popular melalui cerita perlombaan katak. Pada suatu hari ada perlombaan memanjat menara. Perlombaan menghadirkan katak-katak yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Berbagai model katak turut serta untuk mencapai puncak menara. Setelah peluit tanda mulai ditiup, katak-katak terus bergegas melompat menaiki tangga demi tangga menara. Semakin lama semakin tinggi para penonton di bawah berteriak-teriak, “woi para katak, kamu sudah naik tinggi sekali”. Ada juga yang mengatakan,“awas jatuh” dan sebagainya. Sebagian kontestan mendengarkan teriakan-teriakan penonton, dia menyadari bahwa dirinya telah naik menara terlalu tinggi sehingga dirinya hilang konsentrasi lalu terjatuh. Tidak satu dua katak yang terjatuh, semua kontestan akhirnya terjatuh sampai tertinggal satu katak. Satu-satunya katak yang tersisa ini terus melompat dan akhirnya sampai puncak menara. Para penonton terpukau dengan katak tersebut. Para penonton dan kontestan lain merasa heran bagaimana bisa katak tersebut bisa mencapai kesuksesan yang demikian gemilang (bisa mencapai puncak menara). Setelah turun, katak ini diwawancarai, tetapi diam saja. Ternyata setelah diteliti, katak ini tuli alias tidak bisa mendengar.

Oke, ya memang saya tidak mengatakan dari cerita katak yang telah saya utarakan bahwa agar bisa sukses anda secara fisiologis harus menjadi orang tuli. Tetapi yangs aya maksudkan, ketika kita ingin sukses fokuslah ke target sukses yang ingin anda capai. Tak perlu kita hiraukan suara-suara sumbang yang bermaksud melemahkan bahkan menghalangi kitamencapai apa yang kita ingin capai. Bersikap tulilah terhadap suara-suara yang semacam itu. Peracaya diri, komitmen, dan teruslah bekerja keras untuk sukses. Ya seperti katak tuli tadi. Dia hanya ingin mencapai puncak menara sementara banyak kontestan lain yang berjatuhan sebab terpegaruh kata-kata negatif dari penonton maupun sesame kontestan lainnya.

Oke, semoga bisa menginspirasi. Sebagai penutup, di diary ini ada kutipan kata-kata mantan juara tinju dunia, “TOBE A CHAMPION, YOU HAVE TO BELIEVE IN YOUR SELF, WHEN NO BODY ELSE WILL”. Plus minusnya, mohon maaf…