my INSPIRATION


KALA KEKASIH PUJAAN HATI ‘DIAMBIL’ ORANG

By. Anjrah As.

Sakit. Ya sakit itu perasaan umum yang kita rasakan saat pria atau wanita yang kita sukai dan kita idam-idamkan ‘diambil’ orang. Lebih pedih lagi jika kita telah berusaha mempersiapkan segalanya, sampai seakan pernikahan sudah di depan mata, ternyata berakhir dengan kegagalan.Berlepas dari usaha yang dilakukan itu halal ataupun haram, intinya adalah salah satu dari pasangan kekasih atau dua-duanya telah mengusahakannya.

Tidak usah membicarakan yang jauh terlebih dahulu. Kita ambil pelajaran dari teman-teman kita yang berpacaran. Tidak jarang teman-teman yang berpacaran itu melihat satu sama lain bahwa di masa depan meraka akan tetap hidup bersama (baca: menikah). Maka banyak aktivitas keseharian yang dilakukan selama berpacaran sudah seperti ketika mereka sudah benar-benar menikah.

Awalnya memang baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu timbul masalah lalu putus. Ya tabiat pacaran kan memang demikian, relatif mudah putus, kadang juga relatif mudah sambung. Tidak usah heran karena memang saat orang berpacaran tidak ada filosofi fundamental yang bisa dijadikan pondasi kelanggengan hubungan ‘asmara’ tersebut.

Kalau putus yang benar-benar putus sih sebenarnya cenderung ringan. Adakalanya ketika sudah putus, ternyata masih ada cinta yang menggelora. Masih ada hasrat untuk bisa melanjutkan hubungan asmara yang pernah terjalin bersama sang ke kasih. Tanpa di sangka-sangka, di tengah periode putus itu datanglah pria/wanita kepada mantan kekasih kita. Tidak lain tidak bukan ternyata pria/ wanita (bisa pacarnya yang dulu, orang baru, malah teman dekat kita) kemudian melamarnya dan menikahinya. Duh… hancur… hancur hati dibuatnya.

But it’s oke, Life must going on. Sedih itu wajar, tetapi bersedih berlebihan itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Sudah lah ikhlaskan saja. Makna ikhlas disini bukan lantas kita berpikir, “Ah… pria/wanita yang lain juga masih banyak”. Namun kita kembalikan pada iman kepada Qadha dan Qadar. Kita juga perbaiki iman kita kepada Allah Yang Mahapengatur lagi Mahamengetahui.

Allah yang mengetahui yang pria/wanita yang paling baik menjadi teman hidup kita. Boleh jadi kita menikah dengan wanita yang kita pilih semata-mata dengan pilihan kita sendiri, ternyata di masa depan dia justru menjadi muara penderitaan kita di dunia dan akhirat. Ingatlah Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Ikhlaskan… ikhlaskan. Pasrahkan kepada Allah semuanya. Biarkan orang lain ‘mengambil’ kekasih hati kita. Toh kalau jodoh dia tidak akan kemana. Jodoh kita juga tidak akan tertukar apa lagi meleset dari apa yang telah ditulis Allah subhanahu wata’ala. Ambilah ibroh dari beberapa kisah cinta berikut:

  1. Kisahcinta abadi nabi Yusuf alaihi salam dengan Zulaikhah.

Saya yakin sudah banyak yang mengetahui kisah cinta yang agung ini. Sebagaimana yang kita tahu dari yang dikisahkan dalam Al Qur’an bahwa sosok Nabi alaihi salam adalah pemuda yang Allah berikan kepadanya ketampanan, kebaikan Akhlaq, dan banyak kesempurnaan lahiriah juga batiniah lainnya. Sampai pada kisah Zulaikah yang tergoda dengan Nabi Yusuf alaihi salam lalu memaksa Nabi Yusuf alaihi salam untuk melakukan perbuatan maksiat (berzina). Nabi Yusuf alaihi salam pun sebenarnya telah tergoda mengikuti ajakan Zulaikha. Namun dengan pertolongan Allah subhanahu wata’ala Nabi Yusuf alaihi salam bisa lulus dari cobaan tersebut.

Pada tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa pada akhirnya setelah Zulaikah bercerai dengan suaminya, kemudian Nabi Yusuf alaihi salam menikahinya. Zulaikha telah bercerai dengan suaminya. Akhirnya Zulaikah bisa memiliki kekasih pujaan hatinya dengan cara yang lebih baik dan berkah. Tidak seperti pada kisah awalnya dimana Zulaikah ingin secara paksa dan melalui jalan yang buruk (zina) untuk memiliki Nabi Yusuf alaihi salam. Allah berikan jalan yang lebih baik, yakni melalui pernikahan. Ya tidak perlu kita memaksakan diri atau orang lain, bila emang dia jodoh kita, pasti kembali kepada kita.

  1. Kisah Ummu Salamah Radhiyallahu’anha. Ummu salamah memiliki suami bernama Abu Salamah. Setelah sekianlama berumah tangga, pada suatu hari kekasih pujaan hatinya, Abu Salamah, meninggal dunia. Kita tentunya sudah paham bagaimana dinamika perasaan saat kita mendapatkan musibah seperti yang dialami Ummu Salamah radiyallahu’anha di atas.

Hanya saja Ummu Salamah tidak larut dalam kesedihan yang terlalu dalam, Ummu Salamah ingat bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah lalu membaca: ‘Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun’, dan mengucapkan, ‘Allahuma’jurnii fiimushiibatii wakhluflii khoiron minhaa (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah buatku dengan yang lebih baik daripada musibah ini)’, melainkan dia akan diberi ganti oleh Allah (HR. Ahmad). Ummu Salamah lalu membaca doa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah ajarkan. Luar biasa, Ummu Salamah kemudian berkata, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku membaca doa seperti yang diperintahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka Allah memberi ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Pada kisah ini, perhatikan sikap ikhlash Ummu Salamah radhiyallahu’anha dan keimanannya kepada segala tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam menghadapi musibah kehilangan kekasih hatinya. Luar biasa sekali, Allah subhanahu wata’ala bayar tunai serta dengan ganti yang lebih baik. Ya singkatnya, bila kita mendapat musibah ditinggal ke kasih hati kita, santai saja. Ikutilah ‘rumus’ yang telah di ajarkan Ummu Salamah radhiyallahu’anha di atas. Semoga diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala, mendapat pahala dariNya, sekaligus dapat ganti yang lebih baik.

  1. Kisah cinta kontemporer antara tokoh Khairul ‘Azzam dengan Anna Althofunnisa pada novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya Kang Abik. Ya kisah ini kisah tambahan untuk menambah keimanan kita tentang kuatnya qadarullah (takdir Allah subhanahu wata’ala)mengatur perjodohan hamba-hambaNya.

Pada awal novel kita belum tahu bahwa Khoirul Azzam kelak ternyata jodohnya adalah Anna Althofunnisa. Bahkan yang kita tahu Anna menikah dengan tokoh Furqon. Kita juga tidak pernah tahu pada setelah Anna menikah dengan Furqon, ternyata Furqon belum pernah bisa sekalipun ‘menyentuh’ Anna. Ada berbagai qadarullah yang mengatur semuanya. Sampai pada akhirnya Anna bercerai dengan Furqon. Setelah bercerai dengan Furqon takdir Allah mempertemukan dengan Khoirul Azzam, sosok pemuda yang menolong Anna saat Anna dahulu kehilangan kitab-kitab kuliahnya, lalu menikah dengannya.

Ya sekali lagi, kalau memang bukan jatahnya, mau pusing dipikir bagaimana kita membuat skenarionya, kita juga tidak akan bisa merubah tinta takdir yang telah tertulis di Lauhil Mahfudz. Allah subhanahu wata’ala telah mengatur semuanya.

Akhirya, kala kekasih pujaan hati diambil orang ataupun akan diambil orang, ya biasa-biasa saja dan tenang. Kita berusahalah lagi. Kerjakan hal-hal yang produktif dengan sungguh-sungguh agar segera menemukan ‘jodoh asli’ kita. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ”Bersungguh-sungguh dalam menuntut apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kegagalan, janganlah kamu berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu’, tetapi katakanlah, ‘Qaddarallahu wamaa sya- a fa’ala’ (Ini telah ditakdirkan Allah dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki), karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan syetan” (HR.Muslim).

Ingat juga untuk mengistikharohkannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita musyawarahkan kepadaNya Yang Mahatahu apa-apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita munajat meminta petunjuk kepadanya (pada semua urusan, tidak cuma masalah jodoh saja) melalui shalat istikharoh agar apa-apa yang terbaik dimudahkan kita untuk mendapatkannya serta memberi berkah. Sedangkan jika itu adalah keburukan maka Allah hindarkan dan menuntun kita kepada yang lebih baik.

Pas sudah dapat terus kita dapati kekurangan-kekurangan pada jodoh kita, bersabarlah. Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ia memiliki kekurangan, pasti dia juga memiliki kebaikan-kebaikan. Ingatlah Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS. An Nisaa: 19). Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber bacaan:

Abdurrahman, Syaikh bin Hasan Alu Syaikh. 2002. Fathul Majid Edisi Indonesia. Jakarta: Pustaka Azzam

Abul Fida, Imamuddin. 2004. Tafsir Singkat Ibnu Katsir jilid 1. Surabaya: PT. Bina Ilmu

Al Qarni, ‘Aidh bin Abdullah. 2004. La Tahzan. Bandung: Irsyad Baitus Salam

PEKERJAAN UTAMA ADALAH da’wah

Dhen Anjrah

Ehm aku sedang teringat salah satu kolom dalam CV yang kadang disodorkan ke saya sebelum mengisi materi. Kebetulan bulan November ini beberpa kali aku ditanggap untuk berbagi pengalaman diberbagai forum. Mulai dari acara-acara anak BEM sampai acara Rohis. Salah satu kolom tersebut adalah kolom pertanyaan “pekerjaan”.

Secara pribadi aku akan membedakan dengan pemahamanku sendiri mengenai beda kata “pekerjaan” dengan “mata pencaharian”. Menurutku tidak selamanya pekerjaan itu bermakna juga mata pencaharian yang notabene berarti melakukan aktivitas tertentu yang tujuannya mendapatkan uang yang dipergunakan untuk memenuhi berbagai maslahat kehidupannya. Sedang mata pencaharian sudah barang tentu itu sebuah pekerjaan, entah bekerja dengan dirinya sendiri atau bekerja pada orang lain. Tapi itu definisiku. Boleh ngikut, boleh bikin sendiri. Monggoh…

Back to topic, terus apa pekerjaanku? Aku seringnya menulis, pekerjaanku adalah mahasiswa, herbalis, pengusaha, dan seorang trainer. Sampai aku lupa bahwa sebagai seorang muslim, sejatinya pekerjaan utamanya adalah berdakwah. Sempat aku malu membaca salah satu hadist dalam kitab Bulughul Mahram tentang Khalifah Utsman bin ‘Affan radiyallahu’anhu sebagai seorang kepala negara (jaman sekarang presiden) tetap mendakwahkan wudhu. Karena memang, beliau sadar bahwa dakwahlah yang menjadi pekerjaan utamanya tiap diri muslim. Untuk lebih jelasnya simak hadist tersebut:

Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. (HR. Muttafaq Alaihi).

Khalifah ke tiga ini tidak malu menyampaikan dakwah sedangkan kekuasaan negara islam pada waktu itu adalah di tangan beliau. Ya ini juga saah satu cermin sikap ketawadhuan beliau. Apalagi bagi sebagian orang, hal yang diajarkan oleh Khalifah Utsman merupakan perkara yang ‘remeh’, yakni mengajari wudhu. Akan tetapi secara hakiki tidak ada perkara yang remeh dalam hal berdakwah atau mendakwahkan sesuatu yang haq berasal dari Allah dan rasulnya .

Lebih spesifik masalah wudhu, banyak sekali kita dapati disekeliling kita manusia-manusia yang berwudhu belum sesuai dengan wudhunya nabi . Wudhunya masih belum benar. Bagaimana shalatnya akan diterima oleh Allah sedangkan wudhunya belum mengikuti kaidah-kaidah yang dituntunkan didalam Al Qur’an dan Sunnah. Sebagian lagi berwudhu tanpa ilmu, atau sudah tahu ilmunya akan tetapi dia malah lebih memilih pendapat si fulan atau si fulanah yang pernah didapatkannya. Mengajarkan wudhu yang sesuai dengan sunah nabi adalah suatu hal yang utama dan sangat utama. Lebih baik kita mengajari yang sedikit tetapi itu sunnah, daripada suatu hal yang nayak dan besar akan tetapi itu adalah suatu hal yang diada-adakan (bid’ah).

So, ingatlah selalu dimanapun kita berada, apapun pekerjaan kita, dakwahlah pekerjaan utama kita. Jia Yo!.

Menjaga Amanah; Kisah ahli Kunci

Dhen @njRAH

Bulusan, 20 November 2008

Hari ini mau tidak mau kosku harus membayar listrik. Ya itu kalau tidak mau kena denda. Biasanya pembayaran listrik melebihi tanggal 20 akan dikenai denda. Ya semoga teman-teman ada duit. By the way, aku masih merasa kesal. Ya kesal terhadap salah seorang saudaraku yang meminjam salah satu CD. Semula dia berkata ingin meminta salah satu file tugas kuliah yang aku punya, lalu ku katakan datanya ada di CD. CD tersebut kemudian aku ambilkan lalu ku berikan kepadanya.

Beberapa menit berselang ia lalu mengembalikan CD tersebut. Ia katakan ia sudah mengambil filenya. Akan tetapi pada waktu mengambilkan CD ia mengeluarkan komentar negatif terhadapku yang dengan itu aku berkesimpulan bahwa dia telah membuka file-file lain yang ada di dalam CD tersebut (tanpa seijinku). Bahkan ia lupa mengucapkan terima kasih. Sekali lagi bukan faktor ucapan terima kasih atau saya jadi tidak ikhlash dalam memberikan materi kuliah saya. Bukan itu. Cuma sikap amanahnya.

Sudah jelas sejak awal konteks yang diakadkan walaupun tidak secara nyata dilakukan adalah file kuliah. Maka bukalah hanya yang berhubungan dengan file kuliah tersebut atau bahkan hanya file kuliah tersebut saja. Secara konvensi seharusnya ia bisa paham bahwa dirinya tidak diberikan licence untuk membuka file yang selain itu. Untuk lebih jelasnya saya akan ceritakan sebuah kisah terkait grundelan saya ini.

Pada suatu hari ada seorang ahli kunci yang akan melakukan pengijazahan ilmu kepada muridnya. Sekaligus dengan pengijazahan ilmu tersebut maka sang murid yang mendapatkannya akan dipercaya olehnya untuk melanjutkan tugasnya sebagai seorang guru ahli kunci. Kebetulan Sang Guru sudah berusia tua sehingga sudah waktunya ‘disegarkan’ oleh yang lebih muda dan tentunya telah teruji kapabilitasnya.

Maka Sang Guru melakukan sayembara kepada dua murid terakhirnya. Sayembara ini cukup sederhana, yakni sayembara membuka gembok kunci sebuah peti yang terletak di tempat yang sudah ditentukan oleh Sang Guru. Maka sayembara yang hakikatnya adalah ujian tersebut pun berjalan. Murid pertama masuk ke rumah yang ditentukan. Waktu terus berjalan. Akan tetapi tidak lama sudah keluar murid pertama dan berhasil membuka gembok kunci. Lalu masuk murid ke dua, murid kedua dengan waktu yang tidak begitu lama akhirnya berhasil pula.

Setelah sang murid berhasil memecahakan kombinasi kunci yang diujikan oleh gurunya, Sang Guru mengajukan satu pertanyaan kepada keduanya. Sang guru bertanya, ”Apa yang ada di dalam peti tersebut?”. Murid pertama menjawab tidak tahu, ia katakan, ia adalah seorang ahli kunci, maka tugasnya ya membuka kunci saja”. Pertanyaan yang sama diajukan kepada murid yang ke dua, dia menjawab, ”Wahai guru, saya melihat di dalamnya perhiasan-perhiasan yang menyejukkan mata. Ada berbagai bentuk dan rupa di dalamnya”. Gurunya mengatakan,”Benar, itulah isinya”.

Sang guru terdiam dan mengangguk-angguk mendengar jawaban ke dua muridnya tersebut. Tidak lama berselang, ia berkata, ”Wahai murid pertamaku, engkaulah yang lulus ujian dan yang berhak mewarisiku sebagai guru ahli kunci di padepokan ini”. Dengan tetap menghargai keputusan gurunya tersebut, murid ke dua yang keheranan dengan keputusan akhir gurunya ini kemudian bertanya,”Ya guru, sayakan yang bisa menjawab pertanyaan ke dua, dan gurupun membenarkannya. Tetapi saya masih belum mengerti mengapa murid pertama yang lulus dan mewarisi padepokan ini?”. Sang Guru kembali tersenyum terhadap ke dua muridnya, Sang Guru berkata,”Tugas seorang ahli kunci adalah memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami masalah terhadap berbagai kunci yang ada padanya. Tugasnya adalah sekedar membuka gembok atau kunci yang bermasalah tadi. Hanya itu”. Jawaban yang singkat oleh Sang Guru langsung dapat dimengerti oleh ke dua muridnya. Sang Guru ternyata telah mengajarkan ilmu yang sangat penting melebihi berbagai taktik menaklukan kunci dan gembok yang telah beliau ajarkan, yakni ilmu tentang menjaga amanah.

Melalui ilustrasi kisah ahli kunci di atas saya yakin pembaca sudah mengerti apa sebab murid yan pertama yang lulus dan berhak mewarisi padepokan ahli kunci. Padahal ia tidak dapat menjawab pertanyaan ke dua yang disampaikan Sang Guru. Dari kisah tersebut saya pun jadi semakin paham terhadap sikap salah seorang teman saya yang membuka jasa servis computer. Suatu ketika saya datang ke ‘kantornya’, teman saya ini sedang sibuk menservis komputer dan mencari dimanakah virus komputer tersebut bersarang. Saya mengamati dengan seksama apa yang dia lakukan. Sampai pada suatu saat saya melihat ada file-file lagu yang sudah lama saya cari-cari ada di dalam komputer yang sedang diservis oleh teman saya ini. Dengan rasa tanpa sungkan-sungkan saya berkata kepadanya yang intinya minta ijin untuk mengcopy file lagu tersebut dari dalam komputer yang tengah diservisnya. Namun dia tidak mengijinkannya. Dia katakan saya bahwa tugas saya adalah menservis komputer ini. Sang pemilik telah mempercayakan komputer ini kepada saya. Saya tidak diamanatkan untuk yang selain apa yang telah sang pemilik amanahkan kepada saya. Dia memohon maaf kepada saya, dan dia katakan tetap tidak bisa. Sekalipun saya sudah mencoba melakukan serangkaian rasionalisasi untuk memuluskan maksud saya mengcopy file tersebut.

Pada akhirnya saya tetap tidak dapat mengcopy file tersebut, sedikit sedih sih. Akan tetapi saya sangat berbahagia, saya telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga mengenai menjaga amanah dari teman saya tersebut. Alhamdulillah. Sehubungan dengan amanah aku jadi teringat dengan firman Allah ,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS. Al Anfaal: 27). Dan dalam hadist telah disebutkan mengenai warning tentang sifat-sifat orang munafik, rasul bersabda,” Ada empat hal, yang jika ada pada seseorang maka ia menjadi munafik sesungguhnya, dan jika orang memiliki kebiasaan salah satu daripadanya, berarti ia memiliki kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya. Bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertengkar, ia berucap kotor (HR. Muttafa’Alaih). Dalam hadist lain nabi bersabda,”Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat” (HR. Muttafaq’ Alaihi). Bahkan ancaman sangat keras Allah tujukan kepada orang munafik, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS.An Nisa 145).

Ya Allah tambahlah ilmu untuk hamba, pahamkan hamba atas islmu yang telah engkau karuniakan. Jadikan hamba terhindar dari sifat-sifat orang munafik. Jadikanlah hamba bisa mengemban amanah dengan sebaik-baiknya sekecil amanah apapun itu. Ampunilah dosa-dosa hamba. Engkaulah Yang Mahapengampun”.

Romantisme Rumah Tangga Nabawi; hadist Ummu Zara’

Hadis ini diriwayatkan oleh Aisyah ra., ia berkata:
Pernah sebelas orang wanita duduk berkumpul saling berjanji dan bersepakat untuk tidak menutup-nutupi keadaan suami-suami mereka.

Wanita pertama mengatakan: Suamiku seperti daging unta yang kurus berada di puncak gunung yang sukar didaki, tidak datar sehingga mudah dilalui dan tidak juga gemuk sehingga dapat dipindah-pindahkan.

Wanita kedua mengatakan: Suamiku, aku terpaksa tidak dapat menuturkan mengenai keadaannya karena aku khawatir tidak dapat meninggalkannya. Jika aku menyebutkan sama halnya aku mengungkapkan rahasia aibnya.

Wanita ketiga mengatakan: Suamiku berperawakan tinggi sekali. Jika aku berbicara maka aku akan diceraikannya dan jika aku diam aku pun akan dibiarkannya tanpa dicerai dan dikawinkan (muallaqah).

Wanita keempat mengatakan: Suamiku seperti suasana malam di wilayah Tihamah, tidak panas dan tidak juga terlalu dingin, tidak menakutkan dan tidak juga membosankan.

Wanita kelima mengatakan: Suamiku apabila sudah memasuki rumah, maka dia langsung tertidur nyenyak dan apabila keluar rumah dia seperti seekor singa tanpa menanyakan sesuatu apapun yang bukan termasuk urusannya.

Wanita keenam mengatakan: Suamiku apabila makan, maka ia makan banyak sekali dengan bermacam jenis lauk dan jika minum maka semua sisa minuman akan diteguknya. Dan jika tidur dia akan berselimut tanpa mendekati diriku sehingga ia dapat merasakan nikmatnya kebersamaan.

Wanita ketujuh mengatakan: Suamiku adalah orang yang tidak mengetahui kepentingan dirinya atau lemah syahwat serta tergagap-gagap bicaranya, setiap obat yang diminum tidak dapat menyembuhkan. Di samping itu dia juga orang yang mudah melukai dan memukul.

Wanita kedelapan mengatakan: Suamiku beraroma wangi seperti zarnab dan sentuhannya selembut sentuhan seekor kelinci.

Wanita kesembilan mengatakan: Suamiku adalah seorang terhormat, berpostur tinggi dan sangat dermawan, berumah dekat dengan tempat pertemuan.

Wanita kesepuluh mengatakan: Suamiku adalah seorang pemilik unta yang banyak yang selalu menderum dan jarang sekali bergembala di padang rumput. Unta-unta tersebut jika mendengar suara alat musik kecapi, mereka merasa bahwa sebentar lagi mereka akan disembelih.

Dan wanita yang kesebelas mengatakan: Suamiku bernama Abu Zara`. Tahukah kamu siapakah Abu Zara`? Dialah yang memberiku perhiasan anting-anting dan memberiku makan sehingga aku kelihatan gemuk dan selalu membuatku gembira sehingga aku merasa senang. Dia mendapati diriku dari keluarga tidak mampu yang tinggal di lereng bukit lalu mengajakku tinggal di daerah peternakan kuda dan unta dan dia juga seorang petani. Aku tidak pernah dicela bila berbicara di sisinya dan bila tidur aku dapat tidur dengan nyenyak sampai pagi. Dan bila minum aku dapat minum sampai puas.

Lalu Ummu Abu Zara`, tahukah kamu siapakah Ummu Abu Zara`? Dia memiliki kantong-kantong bahan makanan yang besar-besar dan rumahnya sangat luas. Ibnu Abu Zara`, tahukah kamu siapakah Ibnu Abu Zara`? Dia memiliki tempat tidur laksana pedang yang dicabut dari sarungnya. Dia sudah merasa kenyang dengan hanya memakan sebelah kaki seekor anak kambing. Putri Abu Zara`, tahukah kamu siapakah putri Abu Zara` itu? Ia adalah seorang yang amat patuh terhadap kedua orang tuanya. Tubuhnya gemuk dan suka menimbulkan rasa iri tetangganya. Budak perempuan Abu Zara`, tahukah kamu siapakah budak perempuan Abu Zara`? Ia tidak pernah menyebarkan rahasia pembicaraan kami dan tidak menyia-nyiakan persediaan makanan kami serta tidak pernah mengotori rumah kami seperti sarang burung. Ia (sang istri) melanjutkan: Suatu hari Abu Zara` keluar dengan membawa bejana-bejana susu yang akan dijadikan mentega lalu bertemu dengan seorang wanita bersama kedua anaknya yang seperti dua ekor anak singa bermain dengan dua buah delima di bawah pinggang ibunya. Setelah itu aku diceraikannya demi untuk menikahi wanita tersebut. Lalu aku menikah lagi dengan seorang lelaki terhormat serta dermawan. Ia menunggangi seekor kuda yang sangat cepat larinya sambil membawa sebatang tombak dan memperlihatkan kepadaku kandang ternak yang penuh dengan unta, sapi dan kambing serta memberikanku sepasang dari setiap jenis binatang ternak tersebut. Dia berkata: Makanlah wahai Ummu Zara` dan bawalah untuk keluargamu. Kalau kukumpulkan semua pemberiannya pasti tidak akan mencapai harga tempat minum paling kecil milik Abu Zarra`.

Aisyah berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Aku terhadapmu adalah seperti Abu Zara` terhadap Ummu Zara`. (Shahih Muslim No.4481). pernah dijelaskan oleh Ust Armen dalam bedah buku “Buhul Cinta”, bahwa setelah itu Aisyah menjawab,”Bagiku, Abu Zara’ tidak ada apa-apanya dibandingkan engkau ya Rasulullah”.

heem… sudah sepatutnya beginilah dalam rumah tangga kaum muslimin. suami mencintai istri dan istri mencintai suami. so… benar-benar biti jannati deh. ya Allah .. mudah-mudahan aku bisa segera menyempurnaan setengah agamamu di tahun 2009 besok. amin.

HADIST PENYEMANGAT:

“Ada tiga golongan manusia yang berhak ditolong Allah, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.”

(HR. Ahmad 2 : 251, Nasa’iy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2 : 160).

NASIHAT PERNIKAHAN UMAMAH BINTI HARITS KEPADA PUTRINYA

By. Kang Anjrah

Ustdz Armen Halim Naro Lc. mengutip petuah Umamah binti Harist. Sebuah petuah yang sangat berharga dari seorang ibu bagi putri yang dicintainya. sebuah agung petuah yang dapat digunakan oleh putrinya sebagai sebaik-baik bekal dalam bahtera rumah tangga yang sebentar lagi akan ditempuh olehnya. nasehat tersebut yaitu:

“Wahai putriku, tidak berapa lama lagi engkau akan meninggalkan rumah yang engkau keluar darinya, dang sangkarmu yang selama engkau besar dalamnya. menuju seseorang yang tidak engkau kenal dan teman yang belum akrab dengannya. maka jadilah engkau dayangnya niscaya ia jadi budakmu, jagalah sepuluh perkara, niscaya akan menjadi bekal bagimu.

pertama dan kedua: qonaah dan patuh

ketiga dan keempat: menjaga tempat-tempat pandangan dan penciumannya. jangan sampai matanya jatuh pada yang kotor dan usahakan penciumannya membau aroma yang harum.

kelima dan keenam: memperhatikan waktu tidur dan makannya. karena lapar membakar dan kurang tidur membuat nanar.

ketujuh dan kedelapan: menjaga hartanya dan menjaga keluarga dan barang berharganya. inti dalam menjaga harta adalah ahli dalam mengatur dan menjaga keluar pandai mendidik.

kesembilan dan kesepuluh: jangan coba melanggar perintahnya dan membongkar rahasianya. karena jika engkau langgar perintahnya berarti engkau telah keruhkan hatinya dan jika engkau bongkar rahasianya engkau tidak akan lepas dari tipuanya. lalu jangan sekali-kali bergembira ketika ia berduka atau berduka ketika ia bergembira”.

Semoga bermanfaat untuk segenap rumah tangga muslim….

Ma’roji: Naro, Armen Halim. 2007. BUHUL CINTA; upaya melestarikan cinta pasutri sampai ke surga. Pustaka Darul Ilmy.

KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN PAHALANYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Di Antara Fadhilah (Keutamaan) Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.

Pertama.
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama.
Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku bertanya kepada Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan
dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama
shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal
waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan
Allah” [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal-amal yang
paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua
orang tua).

Kedua.
Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua. Dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban,
Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan.

“Artinya : Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridla Allah
tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada
kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2),
Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Ketiga.
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang
sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut.
Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar.
“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada
suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada
sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya,
tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian
mereka berkata pada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu
lakukan’. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui
amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan
tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya
aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku
mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing,
ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada
kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh
untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut
malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap
memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu
aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku
merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak
memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu
yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku
tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku
berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan
kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan
yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. “Maka batu yang menutupi
pintu gua itupun bergeser” [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449
No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah
Wat-Tawasul bi Shalihil A'mal]

Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang
pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah
ketika kita mengalami kesulitan, Insya Allah kesulitan tersebut akan
hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya
karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya.

Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah
payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang ‘bergadang’ untuk
memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika
mengurusnya sewaktu kecil.

‘Si Anak’ melakukan pekerjaan tersebut tiap hari dengan tidak ada
perasaan bosan dan lelah atau yang lainnya. Bahkan ketika kedua orang
tuanya sudah tidur, dia rela menunggu keduanya bangun di pagi hari
meskipun anaknya menangis. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan kedua orang
tua harus didahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri dalam rangka
berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan dalam riwayat yang lain
disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat
baik kepada istri sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar
Radhiyallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin
Khaththab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Ceraikan istrimuu” [Hadits Riwayat Abu Dawud No. 5138,
Tirimidzi No. 1189 beliau berkata, "Hadits Hasan Shahih"]

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud yang disampaikan sebelumnya disebutkan
bahwa berbakti kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada jihad
di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitu besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita
lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak akan dapat membalas
jasa keduanya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma
melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana
saja ‘Si Ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya kepada, “Wahai
Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa
ibuku.?” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Belum,
setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu”
[Shahih Al Adabul Mufrad No.9]

Orang tua kita telah megurusi kita mulai dari kandungan dengan beban
yang dirasakannya sangat berat dan susah payah. Demikian juga ketika
melahirkan, ibu kita mempertaruhkan jiwanya antara hidup dan mati.
Ketika kita lahir, ibu lah yang menyusui kita kemudian membersihkan
kotoran kita. Semuanya dilakukan oleh ibu kita, bukan oleh orang lain.
Ibu kita selalu menemani ketika kita terjaga dan menangis baik di pagi,
siang atau malam hari. Apabila kita sakit tidak ada yang bisa menangis
kecuali ibu kita. Sementara bapak kita juga berusaha agar kita segera
sembuh dengan membawa ke dokter atau yang lain. Sehingga kalau
ditawarkan antara hidup dan mati, ibu kita akan memilih mati agar kita
tetap hidup. Itulah jasa seorang ibu terhadap anaknya.

Keempat.
Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan
dipanjangkan umur. Sebagaimana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim, dari sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan
umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” [Hadits Riwayat
Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693]

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dianjurkan untuk menyambung tali silaturahmi. Dalam silaturahmi,
yang harus didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada
yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah
kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan
tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama ibu dan
bapaknya. Tapi setelah dewasa, seakan-akan dia tidak pernah berkumpul
bahkan tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap
diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan
dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan
umur. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa dengan silaturahmi
akan diakhirkannya ajal dan umur seseorang.[1] walaupun masih terdapat
perbedaan dikalangan para ulama tentang masalah ini, namun pendapat yang
lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir hadits ini bahwa umurnya memang
benar-benar akan dipanjangkan.

Kelima.
Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke
jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak
akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu anak yang
berbuat baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala ke jannah (surga).

Dosa-dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala segerakan adzabnya di dunia
diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua.
Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang
tuanya, Allah Subahanahu wa Ta’ala akan menghindarkannya dari berbagai
malapetaka, dengan izin Allah.

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada
Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul
Qolam - Jakarta.]
_________
Foote Note.
[1] Riyadlush Shalihin, hadits No. 319

taken from: http://www.almanhaj.or.id/content/404/slash/0

SURAT IBU KEPADA PUTRANYA

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!

Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!

Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman;

"Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!" (QS. Ar Rahman: 60)

Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits:

"Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!" (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau berkata: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "Kemudian apa, wahai Rasulullah?" Beliau berkata: "Berbakti kepada kedua orang tua", dan aku berkata: "Kemudian, wahai Rasulullah!" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah", lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak.

Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.

Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

"Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang", dikatakan, "Siapa dia, wahai Rasulullah?, "Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga". (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.

Bangnlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… "Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…" Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu

Sumber:
Diketik ulang dari buku ‘Kutitip Surat Ini Untukmu’
karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc rahimahullah

Burung dengan sebelah sayap

Oleh : Gede Prama

Seorang teman dengan potensi tinggi, mengeluh berat setelah pindah-pindah kerja di lebih dari lima tempat. Tadinya, saya fikir ia mencari penghasilan yang lebih tinggi. Setelah mendengarkan dengan penuh empati, rekan ini rupanya mengalami kesulitan dengan lingkungan kerja. Di semua tempat kerja sebelumnya, dia selalu bertemu dengan orang yang tidak cocok. Di sini tidak cocok dengan atasan, di situ bentrok dengan rekan sejawat, di tempat lain malah diprotes bawahan.

Kalau rekan di atas berhobi pindah-pindah kerja, seorang sahabat saya yang lain punya pengalaman yang lain lagi. Setelah berganti istri sejumlah tiga  kali, dengan berbagai alasan yang berbau tidak cocok, ia kemudian merasa capek dengan kegiatan berganti-ganti pasangan ini. Seorang pengusaha berhasil punya pengalaman lain lagi. Setiap kali menerima orang baru sebagai pimpinan puncak, ia senantiasa semangat dan penuh optimis. Seolah-olah orang baru yang datang pasti bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi, begitu orang baru ini berumur kerja lebih dari satu tahun, maka mulailah kelihatan busuk-busuknya. Dan ia pun mulai capek dengan kegiatan berganti-ganti pimpinan puncak ini.

Digabung menjadi satu, seluruh cerita ini menunjukkan bahwa kalau motif kita mencari pasangan - entah pasangan hidup maupun pasangan kerja - adalah mencari orang yang cocok di semua bidang, sebaiknya dilupakan saja.

Bercermin dari semua inilah, maka sering kali saya ungkapkan di depan lebih dari ratusan forum, bahwa fundamen paling dasar dari manajemen sumber daya manusia adalah manajemen perbedaan. Yang mencakup dua hal mendasar : menerima perbedaan dan mentransformasikan perbedaan sebagai kekayaan.

Sayangnya, kendati idenya sederhana, namun implementasinya memerlukan  upaya yang tidak kecil. Ini bisa terjadi, karena tidak sedikit dari kita yang menganggap diri seperti burung yang bersayap lengkap. Bisa terbang (baca : hidup dan bekerja ) sendiri tanpa ketergantungan pada orang lain. Padahal, meminjam apa yang pernah ditulis Luciano de Crescendo, kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat bersama orang lain.

Anda boleh berpendapat lain, namun pengalaman, pergaulan dan bacaan saya menunjukkan dukungan yang amat kuat terhadap pengandaian burung bersayap sebelah terakhir. Di perusahaan, hampir tidak pernah saya bertemu pemimpin berhasil tanpa kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Di keluarga, tidak pernah saya temukan keluarga bahagia tanpa kesediaan sengaja untuk ‘berpelukan’ dengan anggota keluarga yang lain. Di tingkat pemimpin negara, orang sehebat Nelson Mandela dan Kim Dae Jung bahkan mau berpelukan bersama orang yang dulu pernah menyiksanya.

Lebih-lebih kalau kegiatan berpelukan ini dilakukan dengan penuh cinta. Ia tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga membuat semuanya  tampak indah dan menyenangkan. Makanya, penulis buku Chicken Soup For The Couple Soul mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar. Demikian besarnya  makna dan dampak cinta, sampai-sampai ia tidak bisa dibandingkan dengan apapun.
Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta. Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. Capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia.

Ini semua, mendidik saya untuk hidup dengan pelukan cinta. Di pagi hari ketika baru bangun dan membuka jendela, saya senantiasa berterimakasih akan  pagi yang indah. Dan mencari-cari lambang cinta yang bisa saya peluk. Entah itu pohon bonsai di halaman rumah, ikan koi di kolam, atau suara anak yang rajin menonton film kartun. Begitu keluar dari kamar tidur, akan indah sekali hidup ini rasanya kalau saya mencium anak, atau istri. Melihat burung gereja yang memakan nasi yang sengaja diletakkam di pinggir kali, juga menghasilkan pelukan cinta tersendiri. Demikian juga dengan di kantor, godaan memang ada banyak sekali. Dari marah, stres, frustrasi, egois sampai dengan nafsu untuk memecat orang.

Namun, begitu saya ingat karyawan dan karyawati bawah yang bekerja  penuh ketulusan, dan menghitung jumlah perut yang tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan, energi pelukan cinta entah datang dari mana.

Kembali ke pengandaian awal tentang burung dengan sebelah sayap, Tuhan memang tidak pernah melahirkan manusia yang sempurna. Kita selalu lebih di sini dan  kurang di situ. Atau sebaliknya. Kesombongan atau keyakinan berlebihan yang menganggap kita bisa sukses sendiri tanpa bantuan orang lain, hanya akan membuat kita bernasib sama dengan burung yang bersayap sebelah, namun memaksa diri untuk terbang.

Sepintar dan sehebat apapun kita, tetap kita hanya akan memiliki sebelah sayap. Mau belajar, berjuang, berdoa, bermeditasi atau sebesar dan sehebat apapun usaha kita, semuanya akan diakhiri dengan jumlah sayap yang hanya sebelah. Oleh karena alasan inilah, saya selalu ingat pesan seorang rekan untuk memulai kehidupan setiap hari dengan pelukan. Entah itu memeluk anak, memeluk istri, memeluk kehidupan, memeluk alam semesta, memeluk Tuhan atau di kantor memulai kerja dengan ‘memeluk’ orang lain. SEMOGA terinspirasi.

Komunikasi Efektif

Bagi sebagian orang, berkomunikasi bukanlah hal yang mudah. sesekali agak tegang, dan dilain waktu susah bagimana cara memulainya. oke, saya pikir sah-sah saja karena masing-masing kita berbeda-beda. berikut beberapa tips yang bisa dipakai saat kita berkomunikasi:
1. Hindari kesan memaksa
    Ketika kita berkomunikasi hindari kalimat : “Kamu harus……” baiknya diganti            dengan “Sebaiknya kamu…….” atau ”Maukah kamu……”
2. Fokus kepada solusi bukan masalah
    Ketika berkomunikasi fokuskan kepada hal yang menjadi solusi bukan masalah.        Contoh : Ketika makanan di rumah habis, tidaklah efektif jika kita berkata             ”Aduh     Lapar banget……” lebih baik kita berkata ”Yuuk, beli makanan di                 luar……”
3. Ubah ”kata tidak bisa ” menjadi ”bisa”
     Ketika kita diminta untuk mengadakan pertemuan, lebih baik anda mengatakan     ”Kita bisa mengadakan pertemuannya minggu depan” daripada berkata ”Kita             tidak bisa ketemuan sampai minggu depan” walaupun dua kalimat dengan arti         yang sama tapi estetikanya berbeda.
4. Ambil tanggung jawab dan jangan menyalahkan
    Hindari kalimat ” Ini bukan salahku” lebih baik ganti dengan kalimat ” Apa yang     bisa saya lakukan untuk memperbaikinya”
5. Katakan apa yang anda inginkan bukan yang tidak anda inginkan
    Jika anda tidak ingin seseorang menyetir ngebut, lebih baik berkata ”Tolong             bawa     mobilnya hati-hati” daripada anda berkata ”Jangan bawa mobilnya             terlalu         kencang”
6. Fokus pada masa depan bukan masa lalu
     Jika ada kesalahan teman anda daripada anda berkata “ Saya sudah bilang                 sebelumnya…..” lebih baik diganti dengan ” Mulai sekarang, kita………”
7. Bagikan informasi bukan argumen
    Hindari kalimat, ”Tidak, kamu salah……” lebih baik diganti dengan ”Saya ingin         sepeti ini…….”

    Selamat mencoba dan rasakan nikmatnya berkomunikasi…
    IBSC TV Presenter
    (disadur dari berbagai sumber)

Mengapa ibu jadi tidak didengarkan?

	13 April 2008

YA Allah hari gini aku belum juga bisa menentukan siapa dosen
pembimbing 2 ku. Alhamdulillah sih, untuk pembimbing pertamanya aku
sudah mantap. Tapi…. gimana ya Allah untuk yang keduanya. Aku
Sungguh berharap engkau segera menunjukkannya pada Hamba… Amin.

Ah, jangan larut pada keterbingungan. Aku harus bangkit. Aku harus
tegar dan optimis. Enaknya ngapain ya?….

Nulis aja. Ehm… Tentang tema keluarga. Tema Keluarga merupakan visi
Kampus psikologi UNDIP tahun 2020, yang entah serius apa gak dalam
menggapainya. Karena tahun 2008 ini juga masih gini-gini aja, padahal
sejak saya masuk (tahun 2004) aku juga sudah baca visi tersebut
diruang-ruang kelas.

Aku kepikiran tengan figur ibu dalam sebuah rumah tangga. Aku atau
mungkin kebanyakkan dari kita sering kali menemui sosok ibu yang
tidak didengarkan oleh anak-anaknya. Anak-anak hanya mau menurut
kepada ayahnya. Kerika sang ibu memberikan arahan tertentu kepada
buah hatinya, mereka menganggapnya sebagai angin lalu. Namun, ketika
sang ayah yang memberikan instruksi kepada mereka for do or do not
something
anak-anak tersebut akan menurutinya. What wrong?


Keluarga adalah tim

Aku pikir ada beberapa yang belum dipahami oleh keluarga-keluarga
yang mempunyai masalah di atas. Pertama, di keluarga tersebut
belum terbangun semangat team work yang kuat.  Sadar atau
tidak sadar, dalam keluarga paling tidak terdiri atas tiga komponen
yaitu ayah, ibu, dan anak. Ketiganya akan berjalan harmonis dan
efektif jika didasari kesadaran bahwa ketiganya adalah bagian dari
tim. Jika kesadaran ini tidak terbangun, bukan hal yang tidak mungkin
akan terjadi ketidak seimbangan didalamnya.

Lebih spesifik pada masalah parenting (pengasuhan anak) maka
sosok ayah dan ibulah tim intinnya. Ayah dan ibu harus kompak. Mereka
harus memiliki tujuan dan visi pengasuhan yang sama yang kemudian
dijabarkan dalam jobdesk-jobdesk yang konkret dan terukur. Masalah
seorang ibu yang ‘tidak didengarkan’ oleh anak-anaknya bisa jadi
bermula dari pembagian jobdesk yang tidak jelas.

Komponen ayah terlalu mendominasi atau bahkan melemahkan jobdesk atau
peranan yang bisa dilakukan oleh sang ibu. Contohnya, ketika salah
seorang anaknya bermain benda-benda yang dinilai berbahaya oleh ibu
lalu ibu melarangnya. Akan tetapi disaat yang sama, sang ayah justru
membela sang anak dan mengatakan kepada sang anak untuk tidak usah
mendengarkan perkataan ibunya. Sang ayah berkata.”Teruskan saja,
tidak usah kamu dengarkan perkataan ibumu”
.

Jelas sekali pada ilustrasi diatas sang ayah mempunyai saham jika
nantinya anak tersebut tidak mematuhi ibunya. Ayah mengajarkan kepada
anaknya untuk tidak menghiraukan perkataan ibu yang melarangnya.
Semestinya tidak demikian. Ayah harus menyadari bahwa ibu adalah
mitra satu timnya saat mendidik anak. Namanya tim harus saling
mendukung.

Bukan perkara yang mustahil jika ketidakkompakan tersebut terus
berlangsung menjadikan sang anak tidak patuh pada ibunya. Selain itu,
dapat pula menjadikan sang anak memiliki sikap yang ambivalen
terhadap kedua orang tuanya. Sang anak bisa saja nanti berpikir,
Aduh, aku harus nurut sama siapa nih? Bapak? atau ibu?”.


Faktor internal ibu

Kedua, faktor yang
dapat menjadikan seorang anak tidak menurut pada ibunya bisa bermula
dari faktor internal ibu. Kondisi keluarga yang sudah terbangun
semangat timnya, peran ayah yang sudah supportif pada ibu,
akan tetapi ibunya tidak memiliki ketegasan dalam mendidik atau
melakukan pengasuhan bisa saja menyebabkan anak tidak respek terhadap
peran ibu.

Ibu hendaknya bisa untuk bertindak tegas terhadap anaknya. Tetapi
bukan terus jadi sering marah-marah, namun bertindak tegas disini
dalam konteks memberikan pendidikan kepada anak. Ibu harus berani
menasihati anaknya yang melakukan tindakan yang melanggar norma.
Tunjukan rasa sayang dengan memperbaiki perilaku menyimpang tersebut
ke arah perlaku yang lebih baik dengan bahasa yang bisa dipahami oleh
anak.

Anehnya, beberapa ibu selain menasihatinya dengan bahasa langit
(tidak bisa dipahami anak) tetapi juga nasihat tersebut tidak
diiringi tuntunan seperti apakah seharusnya yang dilakukan anak
selanjutnya. Idealnya, oreintasi orang tua seharusnya bukan melarang
atau memperbolehkan saja. Namun, anak perlu tahu mengapa sesuatu itu
dilarang dan diperbolehkan. Anak perlu tahu alasannya.

Aduh… udah adzan nih… shalat magrib dulu ah. Ya pada intinya,
sadarilah bahwa keluarga adalah satu tim. Harus saling support.
Perankan ayah sebagai ketua pelatih dan ibu sebagai asisten
pelatihnya. Keduanya harus sinergis agar tujuan-tujuan keluarga bisa
tercapai. Disisi lain, jika bermula dari permasalahan internal ibu.
Ibu harus belajar bagaimana mengatasi permasalahan internal tersebut.
Insya Allah. Wallahu a’lam bish shawab.